Popular Post

Popular Posts

Recent post

Tampilkan postingan dengan label Bintang. Tampilkan semua postingan

Ilustrasi perbandingan Matahari dengan bintang raksasa merah. Kredit: Wikimedia Commons
Ilustrasi perbandingan Matahari dengan bintang raksasa merah. Kredit: Wikimedia Commons
SpaceNesia - Sejak awal sejarah manusia, kita telah memahami bahwa Matahari adalah bagian sentral dari kehidupan yang kita kenal. Seiring pemahaman kita terhadap Matahari bertambah, kita jadi tahu bahwa Matahari telah lama ada jauh sebelum eksistensi manusia, dan tidak akan selamanya ada.

Setelah terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu, Matahari kita telah memulai kehidupannya sekitar 40 juta tahun sebelum Bumi kita terbentuk. Nantinya, Matahari kini tidak akan selamanya bertahan, ia akan berevolusi.

Saat ini, Matahari sendiri masih berada di tahap bintang Deret Utama, jenis bintang di mana fusi nuklir di intinya menyebabkannya memancarkan energi dan cahaya, membuat kita di Bumi mendapatkan energi yang lebih dari cukup.

Namun, Matahari takkan selamanya di tahap ini. Fase Deret Utama Matahari hanya akan berlangsung selama 4,5 sampai 5,5 miliar tahun lagi. Setelah itu, Matahari akan kehabisan pasokan hidrogen dan heliumnya, sehingga bakal mengalami beberapa perubahan serius. Dengan asumsi umat manusia masih hidup dan masih tinggal di Bumi, manusia masa depan jelas harus meninggalkan planet ini.

Sebab, perubahan serius yang akan terjadi pada Matahari adalah, lapisan terluar Matahari akan mengembang.

Pengembangan ini akan dimulai setelah semua hidrogen habis dalam inti Matahari, dan helium yang telah terbentuk di sana menjadi tidak stabil sehingga ambruk di bawah beratnya sendiri. Hal ini akan menyebabkan inti Matahari memanas dan menjadi lebih padat, menyebabkan Matahari bertumbuh besar.

Diperkirakan, mengembangnya Matahari menjadi bintang raksasa merah akan tumbuh cukup besar untuk mencakup orbit Merkurius, Venus, dan bahkan Bumi. Bahkan jika Bumi bisa bertahan dari mengembangnya Matahari, jaraknya nanti akan terlalu dekat sehingga suhunya akan sangat panas, membuatnya benar-benar mustahil bagi kehidupan untuk bertahan hidup.

Namun, para astronom juga mencatat bahwa ketika Matahari mengembang, orbit planet kemungkinan akan berubah juga.

Ketika Matahari mencapai tahap akhir dalam evolusi kehidupannya ini, ia akan kehilangan sejumlah besar massa karena terus-menerus melontarkan angin bintang yang kuat. Ketika ia tumbuh besar, ia kehilangan massa, menyebabkan orbit planet-planet berubah.

Jadi, pertanyaannya adalah, apakah ketika Matahari yang berevolusi menjadi raksasa merah akan mendorong orbit planet-planet untuk bergerak ke luar, atau akankah Bumi (dan mungkin bahkan Venus) akan dikonsumsi Matahari?

K.-P Schroder dan Robert Cannon Smith adalah dua peneliti yang telah menjawab pertanyaan ini. Dalam makalah penelitiannya, mereka menjalankan perhitungan dengan model evolusi bintang yang paling mutakhir.

Menurut Schroder dan Smith, ketika Matahari menjadi bintang raksasa merah dalam 7,59 miliar tahun mendatang, ia akan mulai kehilangan massa dengan cepat. Pada saat mencapai radius terbesar, sekitar 256 kali ukurannya saat ini, massanya akan menurun menjadi hanya 67% dari massa saat ini. Ketika Matahari mulai berkembang, ia akan menyapu tata surya bagian dalam hanya dalam 5 juta tahun.

Bagaimana dengan Bumi? Rupanya, ada kabar baik dan kabar buruk untuk pertanyaan ini. Kabar buruknya, menurut Schroder dan Smith, Bumi tidak akan bertahan dari evolusi Matahari. Meskipun Bumi akan menjauh orbitnya sekitar 50% saat Matahari mengembang, planet kita tetap tidak akan mendapatkan kesempatan. Matahari yang semakin meluas akan menelan Bumi sesaat sebelum mencapai ujung fase raksasa merah.

Begitu berada di dalam atmosfer Matahari, Bumi akan berbenturan dengan partikel-partikel gas. Orbitnya akan oleng, dan akan berputar ke dalam Matahari. Jika Bumi sedikit lebih jauh dari Matahari daripada orbitnya sekarang, yakni sekitar 1,15 AU, kemungkinan masih akan mampu bertahan. Tapi nyatanya tidak.

Dan sekarang untuk kabar baiknya, jauh sebelum Matahari memasuki fase raksasa merah, zona laik huni (seperti yang kita tahu sekarang) akan hilang. Astronom memperkirakan bahwa zona ini akan meluas melewati orbit Bumi dalam sekitar satu miliar tahun mendatang.

Matahari yang semakin panas akan menguapkan lautan Bumi, dan kemudian radiasi Matahari akan meledakkan radiasi hidrogen ke segala penjuru ruang. Bumi tidak akan pernah memiliki lautan lagi, dan akhirnya akan menjadi kering.

Tunggu, ini kabar baik? Hemm, ya~

Ya, itu kabar baik. Sisi positifnya adalah, kita jadi tahu bagaimana masa depan Bumi nantinya, sehingga bisa mempersiapkan untuk meninggalkan planet rumah kita sebelum ia ditelan oleh Matahari.

Ketika Matahari menjadi raksasa merah, zona layak huni baru diperkirakan akan membentang dari jarak 49,4 AU ke 71,4 AU (1 AU = 150 juta km). Yang berarti dunia yang sebelumnya dingin, seperti objek trans-Neptunus, akan mencair dan menghangat. Sehingga air dalam bentuk cair akan hadir di Pluto.

Mungkin planet kerdil Eris akan menjadi planet rumah baru kita, sementara planet kerdil Pluto akan menjadi Venus baru, dan Haumeau, Makemake, dan sisanya akan menjadi "tata surya" bagian luar. Tapi, apakah manusia memang masih tinggal di tata surya dalam miliaran tahun mendatang? Atau sudah menjadi peradaban penjelajah galaksi?

Sumber : http://www.infoastronomy.org/2018/06/menanti-matahari-berevolusi-menjadi-raksasa-merah.html
Adakah Bintang Terpanas di Alam Semesta?
Ilustrasi - Sumber : Google.com
SpaceNesia - Sebuah penelitian pernah menyatakan bahwa jumlah galaksi di alam semesta ada sekitar 2 triliun. Dari angka itu, maka jumlah bintang bisa 100-400 kali lipatnya. Nah, pertanyaannya, apa bintang terpanas dari ratusan triliun bintang yang ada di alam semesta ini?

Bintang-bintang di alam semesta memiliki tingkat suhu yang berbeda, mulai dari bintang kerdil merah yang bersuhu relatif dingin, hingga bintang raksasa biru yang super panas. Sama seperti api di Bumi, bintang yang berwarna biru lebih panas daripada yang berwarna merah.

Pertama, mari kita ketahui sedikit dulu tentang suhu. Warna bintang mencerminkan suhunya. Jika bintang terlihat merah, itu berarti suhu permukaannya sekitar 2.200 derajat Celsius. Sekadar perbandingan, Matahari yang digolongkan sebagai bintang kerdil kuning memiliki suhu sekitar 5.700 derajat Celsius.

Semakin panas sebuah bintang, semakin tinggi spektrumnya. Dalam astronomi, ada yang dikenal sebagai sistem klasifikasi bintang, yakni penglasifikasian bintang-bintang berdasarkan seberapa kuat garis serapan pada pola spektrumnya, serta seberapa besar luminositasnya.

Berdasarkan spektrumnya, bintang-bintang di alam semesta digolongkan dalam beberapa kelas, mulai dari O, B, A, F, G, K, dan M. Kelas bintang ini sendiri merupakan urutan temperatur permukaan bintang. Dengan kelas-O merupakan bintang paling panas, dan kelas-M adalah yang bersuhu paling rendah.

Mengacu pada sistem klasifikasi bintang ini, bintang kelas-O adalah terpanas, dan mereka adalah bintang yang berwarna biru. Sebuah bintang kelas-O yang berwarna biru memiliki suhu permukaan di atas 9.700 derajat Celsius, atau bahkan bisa lebih panas lagi.

Bintang biru biasanya juga merupakan bintang raksasa maupun super raksasa. Salah satu contoh bintang biru adalah bintang Rigel, bintang raksasa biru yang terletak di konstelasi Orion. Rigel diperkirakan memiliki massa sekitar 17 kali massa Matahari, dan suhu permukaannya diperkirakan 10.700 derajat Celsius.

Ada pula kelas-O yang lebih besar lagi, yang 100 kali massa Matahari, yakni bintang Eta Carinae. Terletak sekitar 7.500 tahun cahaya dari Matahari, Eta Carinae memiliki ukuran 180 kali radius Matahari, dan suhu permukaannya adalah 35.700-39.700 derajat Celsius!

Jadi, kesimpulannya adalah, bintang terpanas di alam semesta adalah bintang yang berada di kelas-O dalam klasifikasi bintang, contohnya Rigel dan Eta Carinae tadi.

Bintang terpanas juga biasanya muncul sangat terang. Seperti dirimu. Bila dirimu adalah bintang, aku kira kamu adalah bintang kelas-O. Karena kamu adalah sesuatu yang paling bersinar yang pernah aku lihat.

Sumber : http://www.infoastronomy.org/2017/01/apa-bintang-terpanas-di-alam-semesta.html
Kredit: Martin Marthadinata
SpaceNesia- Mungkin kamu sempat berpikir, mengapa setiap malam kita melihat bintang yang itu-itu saja padahal katanya Bumi berputar, baik pada porosnya maupun mengitari Matahari? Apakah selama ini kita dibodohi NASA?

Hmm.. mari kita buang jauh-jauh sifat buruk sangka itu, dan mulai mencari tahu melalui astronomi.

Semua bintang di langit malam muncul sebagai bintik terang, yang membedakannya adalah kecerahannya saja. Oleh karena itu, bila seseorang atau mungkin kamu tidak sering melihat ke langit tiap malam, kamu mungkin akan merasa kalau hanya melihat bintik cahaya yang sama itu-itu saja setiap malam.

Namun, faktanya tidak demikian. Dalam mengamati bintang-bintang, orang-orang kuno dari berbagai budaya di zaman dahulu sempat merangkai sebuah pola di langit agar mereka dapat membedakan antara bintang satu dengan yang lainnya. Pola tersebut dikenal sebagai rasi bintang.

Di era modern ini, Persatuan Astronomi Internasional telah secara resmi merangkai 88 rasi bintang di langit, yang sebenarnya berasal dari kebudayaan Yunani kuno, sih. Dua belas di antaranya diketahui bergerak melalui ekliptika (jalur khayal yang dilalui Matahari, Bulan, dan planet-planet di langit, kira-kira di atas ekuator), yang mana dikenal sebagai rasi bintang Zodiak: Aries, Taurus, Gemini, Kanser, Leo, Virgo, Libra, Skorpius, Sagitarius, Kaprikornus, Akuarius, dan Pises.

Dengan adanya rasi bintang ini, kita sebenarnya bisa mengetahui bahwa setiap malam tidak bintang-bintang itu saja yang terlihat. Setidaknya, bintang-bintang di langit tampak bergerak dalam dua arah.

Pertama, bergerak semu harian, yakni ketika Bumi berputar pada porosnya dari barat ke timur. Gerak semu ini akan membuat bintang tampak terbit di timur dan terbenam di barat dengan waktu sekitar 12 jam. Pergerakan ini sangat mudah kita amati. Karena lebar cakrawala timur ke ufuk barat adalah 180°, hal itu membuat bintang-bintang tampak bergerak 15° per jam dari timur ke barat.

Kedua, gerak semu tahunan. Karena Bumi mengorbit Matahari sekali dalam kurang lebih 365 hari, bintang-bintang di langit tampak bergerak dari barat ke timur. Namun "pergerakan" ini sangat lambat, yakni dengan laju sekitar 1° per hari. Dengan kata lain, kita dapat melihat bintang yang sama hanya sekitar enam bulan dalam setahun di langit malam (pada waktu yang berbeda, tentu saja).

Posisi terbit dan terbenamnya bintang tidak berubah selama satu tahun, yang berubah adalah waktu terbit dan terbenamnya. Jika kamu mengamati dengan sabar dan teliti, kamu dapat melihat bahwa bintang tertentu akan terbit 4 menit lebih awal per hari. Misalnya bila hari ini bintang Zubenelgenubi di rasi bintang Libra terbit pukul 19.04 WIB, maka besoknya ia akan terbit pukul 19.00 WIB.

Dari keterlambatan ini, perlahan-lahan kenampakan bintang-bintang di langit malam akan bergeser dari hari ke hari. Jadi, kira-kira sekitar enam bulan dari sekarang, bintang-bintang yang berada di atas kepala kita pada, misalnya, pukul 12 malam, maka akan berpindah ke belahan dunia yang lain (di bawah kaki kita).

Nah, singkatnya adalah, kita tidak selalu melihat bintang yang itu-itu saja di langit. Bintang mengalami pergerakan semu akibat gerak rotasi dan revolusi Bumi. Semoga menambah wawasanmu.

Sumber : http://www.infoastronomy.org/2018/05/apakah-setiap-malam-kita-melihat-bintang-yang-itu-itu-saja.html
Bintang-bintang. Kredit: Shutterstock
SpaceNesia - Bintang merupakan salah satu objek alam semesta yang paling banyak diteliti oleh para astronom. Lalu, bagaimana para astronom mengetahui kandungan unsur kimia pada sebuah bintang tanpa bisa menyentuhnya?

Ya, inilah istimewanya astronomi. Kita tidak perlu mengunjungi atau menyentuh objek langit untuk menelitinya, cukup mengamatinya dari jauh.

Bintang-bintang berjarak sangat jauh dari Bumi. Bahkan, bintang terdekat ke Bumi (selain Matahari) berjarak lebih dari empat tahun cahaya. Itu sangat, sangat jauh sekali. Mengetahui terbuat dari apa bintang-bintang di alam semesta sangatlah sulit dan memakan waktu yang lama. Jadi, adakah cara yang lebih mudah?

Jawabannya, ada, yakni menggunakan teknik yang disebut spektroskopi. Teknik ini menggunakan fakta bahwa segala sesuatu yang kita lihat bisa mengeluarkan cahaya atau memantulkannya. Instrumen yang disebut spektrometer bisa diarahkan ke bintang yang jauh, galaksi, awan debu, planet, atau apapun yang ingin dilihat seorang astronom untuk dan mengumpulkan cahaya yang berasal darinya.

Dengan spektrometer, para astronom bisa mengurai cahaya yang dihasilkan atau dipantulkan sebuah benda langit seperti cara kerja prisma, sehingga nantinya para astronom bisa melihat warna tadi terbagi menjadi warna-warna pelangi.

Lalu, apa gunanya menguraikan cahaya ini? Nah, inilah kunci utamanya. Atom dari masing-masing elemen berbeda yang membentuk bintang bisa mengeluarkan, memantulkan, atau menyerap cahaya pada panjang gelombang yang berbeda, yang mengubah warna yang dapat dilihat.

Hal itu berarti bahwa ketika spektrometer mengurai cahaya dari bintang yang jauh, maka warna pelangi yang dihasilkan tidak lengkap; ada semacam potongan-potongan gelap pada spektrum tersebut yang bercampur menjadi satu dengan warna pelangi. Potongan-potongan gelap ini pun berbeda untuk setiap unsur kimia.

Karena setiap unsur kimia memiliki warna uniknya sendiri, yang disebut sebagai "spektrum emisi", kita dapat mengetahui terdiri dari unsur apa sebuah bintang itu berdasarkan apa yang dapat kita lihat pada potongan-potongan gelap pada spektrum tadi.

Selanjutnya, ketika mendapatkan data spektrum emisi dari sebuah bintang, para astronom pun lantas mencocokan warna spektrum emsisi yang diterima tersebut dengan pola warna dari setiap unsur kimia yang sudah diteliti di Bumi.

Sebagai contoh, jika kita mengarahkan spektrometer pada sebuah bintang dan mendapatkan hasil spektrum emisi seperti ini:

Kredit: Wikimedia Commons
Maka kita bisa mengetahui bahwa bintang itu terbuat dari hidrogen. Namun, jika kita mendapatkan spektrum emisi seperti berikut:

Kredit: Wikimedia Commons
Maka kita bisa mengetahui bahwa bintang tersebut terdiri dari besi.

Tapi, pada kenyataannya, sebuah bintang terdiri dari lebih dari satu jenis atom. Dengan begitu, kita sebenarnya mendapatkan spektrum emisi yang merupakan campuran pelangi dari berbagai unsur kimia.

Nah, begitulah para astronom tahu kandungan unsur kimia pada bintang.

Pola warna spektrum. Kredit: Honolulu Commnity College Science
Sumber : http://www.infoastronomy.org/2018/04/bagaimana-astronom-tahu-kandungan-unsur-bintang.html
Ilustrasi yang menunjukkan lingkungan di sekitar lubang hitam supermasif yang tengah memangsa materi-materi di sekelilingnya. Kredit: Nahks Tr’Ehnl
SpaceNesia - Telah lama kita membicarakan betapa masifnya objek-objek kosmis, namun* seberapa masifkah masif itu?

Saat kita mengatakan sesuatu itu masif, kita tidak sedang membicarakan ukurannya atau besarnya. Massa berkaitan dengan seberapa banyak materi yang dikandung suatu objek. Meskipun arum manis seukuran kepalamu lebih besar daripada sebatang cokelat, arum manis mengandung lebih sedikit materi sehingga tidak begitu masif. Coba gepengkan arum manis itu dengan tanganmu dan kamu akan mengerti apa yang kumaksud!

Para astronom baru saja mengukur massa sekitar 50 lubang hitam supermasif yang berada sangat jauh dan menemukan bahwa tiap lubang hitam tersebut sekurang-kurangnya lima juta kali lebih masif daripada Matahari!

Untuk pertama kalinya massa sedemikian banyak lubang hitan supermasif yang berjarak sangat jauh dapat diukur secara langsung mengingat sulitnya meneliti lubang hitam.

Sebagian besar teleskop hanya menangkap cahaya, tapi gravitasi lubang hitam sangatlah kuat sampai-sampai cahaya pun tidak bisa lolos dari gaya tariknya. Itu sebabnya lubang hitam tidak terlihat oleh teleskop kita dan ini berarti para peneliti haruslah sangat kreatif bila ingin meneliti lubang hitam.

Supaya bisa mengukur massa lubang hitam, para ilmuwan menggunakan sebuah teknik yang pada prinsipnya adalah mengamati kecerlangan materi-materi yang berada di dekat lubang hitam (misalnya, gas dan debu kosmis) lalu membandingkannya dengan kecerlangan materi-materi yang berada lebih jauh.

Apapun yang mengubah kecerlangan materi di bagian dalam juga akan mengubah materi di bagian luar, tapi terjadinya belakangan. Dengan mengukur jeda waktu ini, para astronom dapat menghitung jarak gas tersebut dari lubang hitam. Informasi ini kemudian digunakan untuk menghitung massa lubang hitam tersebut meskipun mereka tidak dapat melihat detil lubang hitam itu sendiri!

Fakta Menarik


Objek bermassa lebih besar akan mempunyai gravitasi yang lebih kuat. Itu sebabnya mengapa gravitasi Bumi lebih kuat daripada gravitasi Bulan. Gravitasi Bulan yang tidak sekuat gravitasi di Bumi menyebabkan astronaut-astronaut di permukaan Bulan bisa melompat tinggi sekali.

Sumber : https://langitselatan.com/2018/03/25/seberapa-masifkah-supermasif-itu/
10 Fakta Seputar Astronomi

SpaceNesia - Alam semesta menyimpan begitu banyak misteri. Dari sekian banyak teka-teki itu, beberapa diantaranya sudah menjadi fakta, karena hukum evolusi alam semesta yang mengikat dan terus berlaku, fakta tersebut bersifat relatif.

Berikut Saya rangkum 10 fakta astronomi yang mengejutkan dan mungkin bisa memicu anggukan kepala Anda.

1. Lama Waktu pesawat ruang angkasa mencapai galaksi terdekat

Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh pesawat ruang angkasa untuk bisa nencapai galaksi terdekat? Jawabannya tergantung seberapa cepat ia melaju.

Saat ini, ada dua galaksi terdekat kita. Galaksi tersebut adalah galaksi tidak beraturan, ilmuwan mengidentitaskan keduanya dengan Magellanic Besar dan Magellanic Kecil. Selain itu, galaksi spiral andromeda juga diidentifikasi sebagai galaksi beraturan terdekat kita.

Dan sekarang mari kita coba hitung berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai galaksi terdekat kita.

Jarak Magellanic Besar adalah 179.000 tahun cahaya, sedangkan Magellanic Kecil 210.000 tahun cahaya.

Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun di ruang hampa dengan kecepatan 186.000 mil per detik atau sekitar 5.880.000.000.000 mil! Jadi, galaksi terdekat masih sangat jauh dari kita. Selain itu, teknologi yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan antar galaksi jauh di luar kemampuan kita saat ini.

2. Berat badan kita berubah, tergantung di planet mana kita berada

Berat badan kita berubah, tergantung di planet mana kita berada
Seberapa kuat daya tarik yang terasa tergantung pada seberapa besar planet tempat kita berada. Jika kita berada di planet dengan massa lebih Besar dari bumi, kita akan merasa lebih berat, dan di planet dengan massa lebih kecil kita akan merasa lebih ringan.

Jika kita membuat satu perjalanan di tata surya kita dan menempatkan diri di tanah planet yang berbeda, kita akan melihat bahwa timbangan badan kita menunjukkan jumlah yang berbeda pada planet yang berbeda. Hal ini karena medan gravitasi di permukaan planet memiliki nilai yang berbeda antara satu dan lainnya.

Jika medan gravitasi planet yang kita tempati saat ini adalah dua kali lipat gravitasi Bumi, kita akan nemiliki berat dua kali lebih besar dibandingkan kita di bumi, hal inipun akan terjadi untuk planet lainnya.

Berat yang kita rasakan tergantung pada banyak hal, termasuk massa tubuh kita yang sebenarnya, massa planet kita berada, dan seberapa jauh kita dari pusat planet itu.

Sebagai contoh, seorang astronot dengan berat 75 kg di Bumi akan akan mengalami perubahan berat menjadi hanya 28 kg di Mars, 175 kf di Jupiter, 67 kg di Uranus, dan lain seterusnya.

3. Kita sedang melihat masa lalu

Ketika melihat bintang, kita sebenarnya melihat ke masa lalu. Banyak bintang yang kita lihat di malam hari pada kenyataannya telah mati

Cahaya dari bintang-bintang jauh dan atau galaksi memerlukan waktu lama untuk mencapai kita, hal itu menunjukkan bahwa kita sedang benar-benar melihat benda-benda yang muncul ratusan, ribuan atau bahkan jutaan tahun yang lalu sebelum bisa terlihat oleh kita di Bumi.

Jadi, seperti yang kita lihat di langit malam ini, kita secara nyata sedang melihat ke masa lalu dimana cahaya yang kita lihat itu bukan cahaya saat ini. Dan ini menjelaskan mengapa cahaya supernova yang terjadi ribuan tahun yang lalu baru terlihat baru-baru ini di Bumi.

4. Suhu merkurius bisa mencapai -173 celcius

Meskipun Merkurius adalah planet terdekat dengan Matahari, suhunya bisa mencapai -280 derajat F, dibawah suhu beku. Mengapa? Ada penjelasan sederhana.

Merkurius adalah planet terdekat dengan Matahari, ia berputar perlahan-lahan, dan tidak memiliki banyak kondisi untuk menjebak panas, hal ini menyebabkan suhu yang sangat bervariasi.

suhu Merkurius bisa berkisar antara -279 Fahrenheit (-173 Celsius) pada malam hari dan 801 Fahrenheit (427 derajat celcius) sepanjang hari. Suhu yang cukup panas untuk melelehkan timah.

5. Badai "abadi" di sistem tata surya kita

Badai Jupiter memiliki beberapa cuaca paling ekstrim dan dasyat di Tata Surya kita. Badai raksasa seperti amukan "Great Red Spot" berada pada atmosfer yang tebal, seperti hujaman yang luar biasa dari petir dan telah berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan berabad-abad.

The Great Red Spot, yang telah berlangsung setidaknya 300 tahun, adalah tiga kali lebih besar dari Bumi dan pertama kali terlihat oleh ilmuwan Inggris Robert Hooke pada tahun 1664. Warna spot yang bervariasi, kadang-kadang membuat sulit untuk terlihat selain karena awan tebal Jupiter. Ia bergerak ke seluruh planet dalam sebuah band yang tetap dan pada jarak yang tetap dari khatulistiwa.

Ukuran The Great Red Spot begitu besar, jika diibaratkan, mungkin puluhan Bumi bisa masuk ke dalamnya.

6. Jumlah Bintang yang menakjubkan di alam semesta

Jumlah Bintang yang menakjubkan di alam semesta
Di Dekat galaksi kerdil NGC 1569 adalah 'sarang' aktivitas kelahiran bintang kuat dengan melepaskan "gelembung besar" dan juga "super-gelembung" yang menjadi peran utama teka-teki utama galaksi.

Berdasarkan hal itu, ilmuwan memperkirakan bahwa jumlah bintang di alam semesta lebih besar dari jumlah pasir di semua pantai di dunia! Pada malam yang cerah, kita bisa melihat jumlah Bintang setara dengan segenggam pasir.

Diperkirakan, batas maksimum pandangan mata kita pada malam yang sangat cerah, mata manusia hanya dapat melihat sekitar 3.000 bintang. Ada diperkirakan 100.000.000.000 di galaksi kita sendiri, galaksi Bima Sakti.

7. Kekuatan dasyat Matahari kita

Kekuatan dasyat Matahari kita
Matahari begitu besar, dari ukurannya, diperkirakan satu juta Bumi bisa muat di dalamnya. Matahari memasok semua energi kita, dan tanpa itu, Bumi kita akan lebih dingin dan lebih gelap dari Pluto. Suhu matahari adalah sekitar 14 juta derajat Celsius di pusatnya.

NASA telah mengamati matahari dari jarak terdekat, terutama pada bagian bintik matahari, flare matahari, dan coronal mass ejections (CME). Meskipun jarak matahari adalah lebih dari 92 juta mil dari Bumi, "Penyimpangan" matahari dapat mempengaruhi kita di Bumi melalui radiasi (satu-satunya jenis perpindahan panas yang dapat melakukan perjalanan melalui ruang hampa).

Matahari menghasilkan energi begitu besar, jika diibaratkan, setiap detik inti melepaskan setara dengan 100 miliar bom nuklir.

Namun, Matahari relatif kecil dibandingkan dengan bintang lainnya.

8. Betelgeuse, Supernova baru akan lahir dengan "segera"

Betelgeuse adalah salah satu bintang yang dapat dilihat di langit malam. Ini sebagai tanda bagian barat (kanan) bahu dari Rasi Bintang Orion the Hunter (pemburu), atau sang raksasa, di galaksi yang jauh M82.

Betelgeus adalah bintang paling terang kesembilan di langit malam dan kedua paling terang di konstelasi Orion. Bintang Ini adalah supergiant merah, sekitar 13.000 kali lebih terang dari matahari kita dan lebih dari 1000 kali lebih besar.

Jika kita menempatkan Betelgeuse di tempat Matahari, maka hal tersebut akan memperpanjang masa orbit Jupiter.

Para astronom tahu bahwa Betelgeuse satu hari nanti akan meledak sebagai supernova.


9. Gunung berapi di bulan milik Jupiter

Bulan bernama Jupiter Io, secara umum diketahui penuh dengan gunung berapi. Puluhan ventilasi aktif memenuhi pandangan lanskap, termasuk dataran dingin raksasa, gunung yang tinggi dan cincin vulkanik seukuran California.

Gunung berapi di bulan Jupiter Io adalah tempat terpanas di tata surya dengan suhu melebihi 1.800 K (1.527 C). gunung berapi Io mengeluarkan materi dengan kecepatan 1 km setiap detik, yang berarti 20 kali kecepatan maksimal gunung berapi di Bumi.

Gumpalan asap yang naik setinggi 300 km ke angkasa begitu besar, saking besarnya, asap tersebut dapat dilihat dari Bumi dengan Hubble Space Telescope.

Hal inilah yang mungkin menjadikan satelit alami tersebut menjadi yang paling luar biasa sebagai bagian Jupiter, ditambah satu-satunya "tubuh" yang dipenuhi vulkanik aktif di Tata Surya. Sangat panas; panas yang luar biasa di interior Io, yang tergambarkan melalui vulkanisme permukaan, sehingga 25 kali lebih banyak aktivitas vulkanik dibandingkan dengan yang terjadi di Bumi.

10. Kepadatan rendah dan aneh Saturnus, fitur enam sisi tersebut dikenal sebagai segi enam

Kepadatan rendah dan aneh Saturnus, fitur enam sisi tersebut dikenal sebagai segi enam
Saturnus memiliki kepadatan terendah dari planet manapun di tata surya kita. Karena Kepadatan yang begitu rendah, Saturnus akan mengapung jika ditempatkan di dalam air.

Semoga Fakta Seputar Astronomi Ini Bermanfaat!"

Sumber : Dari Berbagai Sumber
10 Fakta Menarik Bintang Kerdil
Ilustrasi bintang kerdil putih. Kredit: Wikimedia Common
SpaceNesia - Tahukah Anda bahwa ada bintang yang digolongkan sebagai kerdil putih? Bila belum, mari mengenalnya lebih dekat sekaligus mengetahui 10 fakta menarik tentangnya.

Bintang kerdil putih diyakini merupakan tahap evolusi terakhir dari bintang massanya yang tidak cukup besar untuk bisa mengakhiri hidupnya dalam peristiwa ledakan supernova. Sebuah bintang kerdil putih terdiri dari materi elektron yang terdegenerasi, sehingga ia tidak lagi menghasilkan energi fusi.

Sebaliknya, kerdil putih memancarkan energi panas yang muncul sebagai luminositas yang redup. Hal itu pun membuat kerdil putih memiliki kala hidup yang sangat panjang. Nah, berikut ini adalah 10 fakta menarik tentang bintang kerdil putih yang mungkin belum Anda ketahui.

Bintang kerdil putih relatif langka

Kerdil putih bukanlah bintang yang umum di alam semesta, mereka justru langka. Setidaknya, hanya ada delapan kerdil putih yang diketahui dari 100 bintang yang paling dekat dengan Bumi kita, dengan bintang kerdil putih terdekat yang paling dikenal adalah Sirius B, bintang pendamping Sirius A dalam sistem biner Sirius yang terletak 8,6 tahun cahaya jauhnya di arah rasi bintang Kanis Mayor.

97% bintang Bimasakti akan menjadi kerdil putih

Sejauh ini, baru ada sekitar sepuluh ribu kerdil putih telah diidentifikasi keberadaannya. Namun, diperkirakan sekitar 97% dari bintang-bintang di Bimasakti saat ini, termasuk Matahari, memiliki massa yang tidak cukup besar untuk meledak dalam supernova, sehingga akan berevolusi menjadi kerdil putih di akhir kehidupannya.

Hampir semua kerdil putih memiliki massa yang sama

Sementara bintang kerdil putih diketahui memiliki berbagai massa, mulai dari 0,17 hingga 1,3 kali massa Matahari, faktanya kebanyakan kerdil putih memiliki massa rata-rata sekitar 60% massa Matahari.

Massa kerdil putih tidak dapat melebihi 1,4 massa Matahari

Karena sifat tekanan degenerasi, sebuah kerdil putih tidak pernah bisa melebihi 1,4 kali massa Matahari. Batas tersebut dikenal sebagai "Batas Chandrasekhar", dinamai dari nama astronom India yang pertama kali menghitung batas ini pada tahun 1930. Namun, angka ini mengasumsikan bila kerdil putih tidak berputar. Tetapi jika kerdil putih berputar, maka massanya bisa saja sedikit meningkat.

Kerdil putih mendingin lebih lambat seiring bertambahnya usia

Penelitian telah menunjukkan bahwa karena bintang kerdil putih tidak menghasilkan energi untuk menggantikan panas yang hilang melalui radiasi, tingkat di mana bintang-bintang ini mendingin terus melambat seiring bertambahnya usia mereka.

Sebagai contoh, bintang kerdil putih dengan massa 0,59 kali massa Matahari yang memiliki atmosfer helium dan suhu permukaan 7.700 derajat Celsius, akan membutuhkan sekitar 1,5 miliar tahun untuk mendinginkan suhunya hingga 6.700 derajat Celcius.

Selanjutnya, pendinginan 230 derajat Celcius lainnya akan memakan waktu sekitar 0,3 miliar tahun, sementara pendinginan suhu agar menjadi 5.700 derajat Celsius akan membutuhkan waktu 0,4 miliar tahun.

Kerdil putih memiliki atmosfer

Studi spektroskopi terhadap bintang kerdil putih telah mengungkapkan bahwa banyak luminositas bintang ini berasal dari atmosfernya, yang dapat terdiri dari hidrogen atau helium. Bahkan, tim astronom dari Federal University of Rio Grande do Sul, Brazil berhasil menemukan SDSS J1240+6710, bintang kerdil putih dengan atmosfer berkomposisi oksigen.

Beberapa kerdil putih kaya akan logam

Data spektrum dari beberapa bintang kerdil putih menunjukkan adanya garis-garis yang menandakan keberadaan unsur logam yang begitu banyak. Meskipun tidak ada kepastian tentang asal mula logam di kerdil putih, diperkirakan bahwa kelimpahan logam dalam spektrumnya berasal dari sisa-sisa sebuah planet yang sempat ia lahap ketika masih di fase bintang raksasa merah.

Kerdil putih hidup lebih lama dari galaksi induknya

Meskipun kerdil putih dianggap stabil setelah mereka terbentuk, mereka pada akhirnya akan mendingin menjadi kerdil hitam. Namun, karena resistensi lapisan terluar mereka terhadap radiasi, diperkirakan bahwa kerdil putih akan memakan waktu sekitar 1,35 miliar tahun untuk hidup. Hal itu membuat kerdil putih kadang bisa hidup lebih lama dari galaksi induknya.

Beberapa kerdil putih menjadi rumah bagi planet asing

Meskipun ada beberapa perdebatan tentang bagaimana planet dapat terbentuk di sekitar kerdil putih, kini didapati banyak bukti bahwa kerdil putih bisa diorbiti oleh planet asing. Teori yang paling didudkung adalah, planet yang mengorbit bintang kerdil putih diperkirakan merupakan sisa-sisa planet yang tidak hancur saat bintang induknya berevolusi menjadi kerdil putih.

Hal ini mirip seperti yang akan terjadi ketika Matahari kita membengkak menjadi fase raksasa merah. Dalam kasus tata surya kita, Bumi mungkin ditelan oleh Matahari, namun planet-planet terluar seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus akan bertahan mengorbit Matahari yang akan menjadi kerdil putih lima miliar tahun mendatang.

Kerdil putih dapat meledak beberapa kali, namun tetap bertahan
Kerdil putih juga bisa meledak, tetapi ledakan termonuklirnya kurang dahsyat karena kurangnya massa dan hidrogen pada permukaannya. Asalkan inti bintang kerdil putih tetap utuh, ledakan berkali-kali pun tidak masalah bagi kerdil putih, mereka tetap dapat bertahan hidup.

Nah, itulah 10 fakta menarik mengenai kerdil putih. Semoga bisa menambah wawasan.

Sumber : http://www.infoastronomy.org/2018/04/10-fakta-menarik-bintang-kerdil-putih.html

10 Fakta Menarik Bintang Kerdil Putih

Asal Muasal Logam Mulia Di Bumi
Ilustrasi bintang neutron
SpaceNesia - Ketika Anda memegang sepotong perhiasan, pernahkah anda bertanya tanya dari mana logam itu berasal?

Asal dari banyak elemen yang paling berharga pada tabel periodik, seperti emas, perak dan platinum, telah membingungkan para ilmuwan selama lebih dari enam dekade.

Tapi sebuah studi baru menemukan jawabannya dalam cahaya bintang samar dari galaksi kerdil yang jauh.

Analisis cahaya dari beberapa bintang terang di galaksi kecil yang disebut Retikulum II, berjarak 100.000 tahun cahaya dari Bumi, menunjukkan bahwa bintang ini mengandung sejumlah besar elemen yang disebut 'r-proses'.

Emas, perak, platinum, uranium dan timbal adalah bagian dari kelompok elemen r-proses, yang meliputi setiap elemen yang lebih berat dari besi.

Mereka diberi nama setelah proses yang digunakan untuk membuat mereka, 'rapid neutron-capture process.' Fenomena ini pertama kali secara teoritis dijelaskan oleh fisikawan nuklir pada tahun 1957.

'Memahami bagaimana elemen r-proses berat terbentuk merupakan salah satu masalah yang paling sulit dalam fisika nuklir, "kata Profesor Anna Frebel, dari Department of Physics di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Walaupun nilai emas, perak dan platinum sangat mahal di Bumi karena kelangkaannya, namun proses yang menciptakan mereka juga membuatnya istimewa.

Unsur-unsur ini diciptakan ketika bintang neutron yang padat hancur satu sama lain dengan kecepatan yang luar biasa, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bumi pada asteroid.

Membuat elemen berat seperti emas membutuhkan begitu banyak energi yang hampir tidak mungkin membuat mereka di laboratorium, "jelas Profesor Frebel.

'Proses untuk membuat mereka tidak bisa di Bumi. Jadi kita harus menggunakan bintang-bintang dan benda-benda di kosmos sebagai laboratorium kami. "

Para peneliti dari MIT Kavli Institute menemukan sebuah galaksi unik yang penuh dengan unsur-unsur berat ini, yang menyoroti sejarah bintang dan evolusi galaksi.

Karena bintang tidak bisa membuat unsur-unsur berat pada diri mereka sendiri, beberapa peristiwa di masa lalu Retikulum II pernah membuatnya. Kelimpahan elemen dalam bintang berimplikasi tabrakan antara dua bintang neutron.

Temuan ini juga menunjukkan bagaimana menentukan isi dari bintang dapat menjelaskan sejarah galaksi induknya. Dijuluki 'arkeologi bintang,' pendekatan ini semakin memungkinkan astrofisikawan untuk mempelajari lebih lanjut tentang kondisi di alam semesta awal.

Penggabungan dua bintang neutron mungkin bertanggung jawab untuk sebagian besar bahan berharga yang kita sebut elemen r-proses di seluruh alam semesta. "

Ini berarti emas dalam perhiasan Anda memulai hidupnya dalam tabrakan bintang neutron, dan melakukan perjalanan ke Bumi dengan menumpang asteroid.

Semua emas di Bumi awalnya tenggelam ke pusat planet karena Bumi awal adalah cair, "kata Profesor Enrico Ramirez-Ruiz.

"Jadi semua emas yang kita miliki saat ini ditemukan di dekat permukaan dari dampak asteroid! '
"Seperti yang kita ketahui, emas tidak dibuat di asteroid," kata Profesor Frebel. 

J0815+4729: Bintang Tertua di Galaksi Bimasakti
Ilustrasi. Kredit: Gabriel Pérez, SMM (IAC)
SpaceNesia - Menurut model kosmologi modern, alam semesta dimulai dalam peristiwa yang dikenal sebagai Big Bang. Peristiwa tersebut terjadi sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu, dan diikuti oleh periode ekspansi dan pendinginan alam semesta.

Selama waktu ekspansi dan pendinginan itu, atom hidrogen pertama terbentuk dari penggabungan proton dan elektron. Kekuatan fundamental fisika pun lahir. Kemudian, sekitar 100 juta tahun setelah Big Bang, bintang dan galaksi pertama mulai terbentuk.

Pembentukan bintang pertama juga memungkinkan pembentukan unsur-unsur yang lebih berat, yang pada akhirnya akan menjadi cikal-bakal pembentukan planet dan semua kehidupan seperti yang kita ketahui saat ini.

Namun, sampai sejauh ini, bagaimana dan kapan proses pembentukan bintang pertama ini berlangsung masih bersifat teoritis. Hal itu dikarenakan para astronom tidak tahu di mana bintang tertua di galaksi kita dapat ditemukan.

Tapi kini, berkat sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh sekelompok astronom asal Spanyol, kita akhirnya bisa menemukan bintang tertua di Bimasakti!

Dalam sebuah jurnal penelitian yang muncul The Astrophysical Journal Letters, tim astronom yang dipimpin oleh David S. Aguado dari Instituto de Astrofisica de Canarias (IAC) tersebut berhasil menemukan dan mengidentifikasi bintang pertama dan tertua segalaksi ini, yang diperkirakan telah terbentuk sekitar 300 juta tahun setelah Big Bang.

Bintang tersebut terletak kira-kira 7.500 tahun cahaya dari Matahari, ditemukan di lingkaran halo Bimasakti di arah rasi bintang Lynx. Dikenal sebagai J0815+4729, bintang ini rupanya masih berada dalam fase deret utama dan memiliki massa yang rendah (sekitar 0,7 massa Matahari). Suhu permukaannya belum diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan mencapai 5.942° Celsius.

Penemuan ini berawal ketika Aguado dan rekan-rekannya mencari bintang yang menunjukkan tanda-tanda miskin logam, yang akan mengindikasikan bahwa sang bintang masih berada dalam fase deret utama.

Bintang J0815+4729 yang ada dalam data Sloan Digital Sky Survey-III Baryon Oscillation Spectroscopic Survey (SDSS-III/BOSS) pun dipilih oleh Aguado dan rekan-rekannya untuk kemudian dilakukan investigasi spektroskopi lebih lanjut dalam rangka menentukan komposisinya (dan usianya).

Penelitian lanjutan tersebut pun dilakukan dengan menggunakan instrumen ilmiah bernama Optical System for Imaging and low-intermediate-Resolution Integrated Spectroscopy (OSIRIS) di Gran Telescopio de Canarias (GTC), terletak di Observatorio del Roque de los Muchachos, La Palma, Spanyol.

Konsisten dengan apa yang diprediksi teori modern, bintang tersebut memang berada di lingkaran halo galaksi Bimasakti. Di wilayah inilah bintang-bintang tertua dan paling miskin logam diyakini berkerumun di galaksi. Hal ini membuat para astronom yakin bahwa sebuah bintang yang berasal dari alam semesta awal akan ditemukan di area ini.

Data spektrum bintang yang diperoleh oleh OSIRIS menegaskan bahwa bintang tersebut memiliki kandungan logam yang sangat sedikit, menunjukkan bahwa J0815+4729 hanya memiliki sepersejuta kalsium dan zat besi yang dimiliki Matahari. Selain itu, tim ini juga menemukan bahwa bintang tersebut memiliki kandungan karbon yang rupanya lebih tinggi daripada Matahari kita.

Singkatnya, J0815+4729 mungkin merupakan bintang paling miskin logam sekaligus paling kaya karbon yang pernah ditemukan dan diketahui sejauh ini, sebuah ciri khas bintang-bintang tua.

Sayangnya, untuk menemukan bintang ini dari permukaan Bumi ternyata agak sulit karena luminositasnya sangat redup. Butuh instrumen spektrograf beresolusi tinggi pada teleskop besar untuk mengamati dan mendeteksi unsur kimia di bintang ini.

Dengan penelitian ini, J0815+4729 pun dinobatkan sebagai bintang tertua di galaksi Bimasakti yang pernah ditemukan.

Sumber : http://www.infoastronomy.org/

J0815+4729: Bintang Tertua di Galaksi Bimasakti

Bisakah Kita Melihat Bintang-bintang dari Galaksi Lain?
Mengamati langit malam penuh bintang. Kredit: Pexels.com
Di langit malam yang cerah dan gelap gulita, kita bisa melihat ribuan bintang di langit yang berkelap-kelip. Tapi, adakah bintang-bintang tersebut yang merupakan bagian dari galaksi lain? Apakah ada bintang di luar galaksi Bimasakti yang bisa kita lihat dengan mata telanjang?

Jawabannya: tidak bisa.

Jadi, apa yang kita lihat saat kita melihat ke langit? Gambar di bagian atas artikel ini menunjukkan bentangan galaksi Bimasakti di langit. Galaksi kita memiliki diameter kira-kira 100.000 tahun cahaya, namun ketebalannya hanya sekitar 10.000 tahun cahaya. Seluruh bintang yang kita lihat di langit malam merupakan bagian dari galaksi kita, Bimasakti.

Galaksi terdekat dari Bimasakti ada galaksi kerdil Awan Magellan Besar, Awan Magellan Kecil, dan galaksi spiral Andromeda. Ketiganya dapat diamati dengan mata telanjang, tapi kita akan kesulitan untuk melihat bintang-bintang di galaksi-galaksi tersebut secara individu karena jaraknya yang begitu jauh.

Supernova SN 1987a di galaksi kerdil Awan Magellan Besar sempat terlihat dengan mata telanjang, namun supernova tentu saja merupakan hal yang berbeda. Ada pula supernova di galaksi Andromeda pada tahun 1885 (SN 1885a) yang cukup terang sehingga bisa terlihat dengan mata telanjang, tapi sayangnya tidak ada catatan bahwa ada yang benar-benar melihatnya kala itu.

Sebagian besar bintang di Bimasakti juga tidak bisa terlihat oleh kita karena banyak dari bintang-bintang tersebut yang berada di sisi lain galaksi ini, dan ditambah lagi ada begitu banyak debu yang menghalangi kita untuk melihat bintang-bintang jauh.

Total kurang lebih ada 5.000 sampai 9.000 bintang saja di Bimasakti yang bisa terlihat oleh mata manusia dari Bumi, namun kita biasanya hanya bisa melihat sekitar 2.500 galaksi dalam satu malam (sisanya berada di nadir). Dengan kata lain, bintang-bintang di galaksi Bimasakti yang bisa kita lihat dengan mata telanjang hanya sekitar 0,000003% dari total perkiraan 200-400 miliar bintang yang menghuni galaksi ini.

Intinya, bila kita hanya mampu melihat 0,000003% dari jumlah bintang di galaksi kita sendiri, bagaimana mungkin kita bisa melihat bintang-bintang dari galaksi lain yang jaraknya lebih jauh dari Bumi?

Sumber : http://www.infoastronomy.org/2017/09/bisakah-kita-melihat-bintang-dari-galaksi-lain.html
Ilustrasi dua bintang neutron yang membentuk gelombang gravitasi. Kredit: ESO
Spacenesia - Manusia memiliki setidaknya 5 indra dasar yang bisa gunakan untuk berinteraksi dengan dunia di sekitarnya: penglihatan, penciuman, sentuhan, rasa, dan perasaan.

Banyak hal merangsang lebih dari satu indra kita. Misalnya, kita bisa melihat cahaya api unggun sebelum mendengar suara nyala api atau merasakan panas pada kulit kita. Semakin banyak indra yang kita gunakan untuk mempelajari sebuah benda, semakin baik kita bisa memahaminya.

Ketika membahas alam semesta, kita selalu harus bergantung pada cahaya yang berasal dari benda-benda yang jauh. Tapi tahun lalu, kita mencapai cara baru untuk mendeteksi atau "merasakan" kejadian di alam semesta. Kita bisa merasakan riak-riak di alam semesta itu sendiri!

Riak-riak ini disebut "gelombang gravitasi". Mereka pertama kali dipaparkan oleh Einstein 100 tahun yang lalu, namun kita tidak memiliki teknologi canggih untuk mengidentifikasinya sampai tahun lalu.

Gelombang gravitasi ini diciptakan oleh lubang hitam yang bertabrakan. Lubang hitam adalah bintang dengan karakteristik yang tidak biasa: mereka memiliki gravitasi yang luar biasa kuat. Hal ini membuat teleskop tidak memungkinkan untuk melihatnya, sehingga kita butuh cara lain untuk mendeteksi mereka.

Pada tanggal 17 Agustus 2017, sekelompok astronom berhasil mendeteksi gelombang gravitasi untuk keenam kalinya, yang kini baru saja diumumkan di markas besar European Southern Observatory yang bertempat di Garching, Jerman (16/10). Tapi untuk pertama kalinya, peristiwa yang menciptakan gelombang gravitasi keenam ini tidak hanya "dirasakan" saja, tapi juga bisa terlihat oleh teleskop (berupa radiasi elektromagnetik).

Adalah Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO) di Amerika Serikat, yang bekerja sama dengan Virgo Interferometer di Italia, yang mendeteksi gelombang gravitasi ini ketika gelombang tersebut melintasi Bumi. Fenomena ini diberi nama GW170817.

Perkiraan jarak dari data gelombang gravitasi dan pengamatan lanjutan sepakat bahwa GW170817 berada pada jarak sekitar 130 juta tahun cahaya dari Bumi. Hal ini membuat ia menjadi peristiwa gelombang gravitasi terdekat terdeteksi sejauh ini dan juga salah satu sumber ledakan sinar gamma terdekat yang pernah ada. Peristiwa ini juga melontarkan unsur emas dan uranium yang berbobot 10 kali massa Bumi.

Terlebih lagi, sinyalnya tidak seperti yang pernah dilihat sebelumnya. Ini adalah peristiwa yang telah lama ditunggu para astronom untuk dilihat dan diteliti: dua bintang neutron yang saling berevolusi satu sama lain, saling mendekat, dan akhirnya saling menabrak satu sama lain dengan keras.

Selain menciptakan gelombang gravitasi, tabrakan dua bintang neutron ini juga membuat adanya ledakan, yang para astronom sebut sebagai "kilonova". Ledakan kilonova sendiri jauh lebih dahsyat daripada supernova, dan bahkan 1.000 kali lebih terang daripada nova pada umumnya.

Bintang neutron adalah benda kecil dan padat. Tidak seperti lubang hitam, mereka mengeluarkan cahaya. Hal ini memungkinkannya untuk dipelajari menggunakan teleskop yang berbeda di seluruh dunia, sekaligus mempelajari gelombang gravitasi yang diciptakannya juga. Menarik, bukan? Sambil menyelam minum air.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat manusia akhirnya dapat melihat dan merasakan sebuah fenomena kosmis yang jauh di alam semesta!

Sumber : http://www.infoastronomy.org/2017/10/ketika-dua-bintang-neutron-bertabrakan.html

Ketika Dua Bintang Neutron Bertabrakan

Lengkungan Bumi, Kredit: Pexel
Permisi saya mau tanya, Kenapa bintang dan planet bentuknya bulat? Apakah semua planet atau bintang di alam semesta kita berbentuk bulat,kalo ada yang lain selain itu berikan contohnya. terima kasih
-Syarif Hidayat Via Tanya SN

SpaceNesia - Jawaban singkatnya semua bintang dan planet bentuknya memang bulat. Tidak ada bentuk lain dari bintang dan planet. Untuk urusan bentuk planet, International Astronomical Union (IAU) menjadikannya bagian definisi planet, yakni memiliki kesetimbangan hidrostatik untuk mempertahankan bentuk bulat.

Bentuk obyek-obyek di alam semesta. Kredit: physicsworld.com
Tapi bagaimana bintang dan planet bisa berbentuk bulat? Mari kita telusuri.

Di alam semesta, kita akan menemukan berbagai benda yang punya berbagai bentuk. Ada debu, asteroid, komet yang bentuknya tidak beraturan, benda-benda berbentuk bulat laksana kentang, benda bulat sempurna, piringan / cakram dan halo.

Gravitasi merupakan penanggung jawab dari bentuk bulat benda-benda tersebut.

Proses pembentukkan bintang dan planet

Proses pembentukan Tata Surya, Kredit : Buzzle
Matahari sebagaimana bintang – bintang lainnya terbentuk dalam awan gas molekul yang disusun oleh 99% gas dan hanya 1% debu. Awan molekul ini merupakan awan yang punya kerapatan tinggi. Matahari juga terbentuk dalam awan serupa yang dikenal dengan sebutan Nebula Matahari.

Awan molekul ini sebenarnya cukup stabil, tapi keruntuhan bisa terjadi jika ada gangguan yang datang dari luar, misalnya gelombang kejut dari ledakan bintang maha dasyat atau ketika terjadi tabrakan antara dua awan molekul. Saat mengalami keruntuhan, awan yang tadinya berbentuk tidak beraturan mengalami perubahan bentuk. Momentum sudut mengubah bentuk awan yang tidak beraturan jadi cakram yang berotasi.

Ketika keruntuhan terjadi pada awan molekul, gas berakumulasi membentuk protobintang. Setelah protobintang terbentuk, ia akan menarik lebih banyak materi gas di awan untuk bergabung. Semakin banyak materi yang ditarik, gravitasi juga semakin besar. Selama proses ini, protobintang berotasi semakin cepat dan temperatur pun meningkat.

Proses berlangsung sampai protobintang memiliki energi yang cukup untuk memulai reaksi pembakaran hidrogen menjadi helium. Maka dimulailah reaksi termonuklir yang melepaskan energi sangat besar. Inilah proses kelahiran bintang yang salah satunya kita kenal sebagai Matahari yang massanya 99.8% dari massa awan.

Sementara itu, piringan awan yang diisi sisa debu dan gas kemudian menjadi materi pembentukan planet-planet di sekeliling bintang yang baru terbentuk.

Cara kerjanya mirip juga dengan bintang. Partikel-partikel debu yang ada di piringan saling bergabung dan membentuk cikal bakal planet. Proses bergabung ini tentu saja karena materi yang ada punya massa, dan setiap benda bermassa akan punya gaya tarik. Ketika protoplanet sudah terbentuk, ia akan terus menarik materi di sekelilingnya. Semakin banyak materi yang ditarik, semakin besar massa planet dan artinya semakin besar pula gaya gravitasinya.

Bintang dan planet yang terbentuk juga berotasi pada sumbunya.

Bentuk Bintang & Planet

Lantas mengapa bentuk bintang dan planet bulat dan bukan kotak atau bentuk lainnya?

Sederhananya, bintang dan planet itu bisa terbentuk dan terikat karena adanya gravitasi. Semakin besar sebuah benda, semakin besar massanya maka semakin besar juga gravitasinya.

Kesetimbangan hidrostatik. Kredit: Nick Strobel’s Astronomy Notes
Pada benda-benda berpilin ini, ada dua gaya yang bekerja. Yang pertama gaya gravitasi yang menarik semua materi ke pusat massa.

Tapi, ada yang menahannya.

Contoh kekekalan momentum sudut saat peluncur es berputar. Ia berputar lambat saat tangan terentang dan kecepatan sudut rendah. Tapi ketika tangan ditarik ke badan, momen inersia berkurang dan kecepatan sudut makin tinggi. Kredit: Boundless.com
Ketika sebuah benda berputar pada porosnya, berlaku kekekalan momentum sudut. Contohnya peluncur es yang berputar. Ketika kedua tangannya terentang, ia akan berputar lebih

lambat sementara untuk berputar lebih cepat ia harus menarik tangannya ke arah badan. Di sini hukum kekekalan momentum berlaku selama tidak ada gaya luar yang dimasukkan ke dalam sistem.

Hal yang sama berlaku pada bintang dan planet yang berotasi pada porosnya. Menurut hukum kekekalan momentum sudut, saat gravitasi menarik massa ke pusat, momentum sudut akan bertambah agar tercapai kekekalan momentum. Saat kecepatan sudut bertambah maka tekanan yang bekerja dari dalam bintang atau planet juga bertambah. Akibatnya tekanan yang bekerja dari dalam ke luar dan gaya gravitasi yang menarik massa ke pusat massa akan bekerja berlawanan dan pada satu titik akan saling menetralkan, sehingga terjadi kesetimbangan yang kita kenal sebagai kesetimbangan hidrostatik.

Ketika kesetimbangan hidrostatik terjadi maka benda fluida seperti bintang dan planet yang dipuntir terus menerus akan mencapai bentuk paling efisien yang akan memiliki gaya sama besar ke segala arah. Gravitasi adalah gaya isotropik atau gaya yang besarnya sama ke segala arah. Karena itu benda-benda yang massanya besar cenderung bulat karena ditarik oleh gaya gravitasi yang besarnya sama pada arah manapun.

Pada akhirnya, bintang dan planet akan menjadi bola berputar dengan kecepatan rotasi yang tetap. Untuk benda yang rotasinya lambat, bentuknya akan bulat sempurna. Contohnya adalah Matahari. Ada juga bintang yang rotasinya 100 kali lebih cepat dari Matahari, yakni VFTS 102 di nebula Tarantula. Jika bintang ini berputar lebih cepat lagi, maka ia akan hancur berantakan.

Semakin cepat rotasi sebuah benda, maka benda akan memipih di kutub atau pada ekuator akan tampak memiliki tonjolan sehingga planet tidak akan bulat sempurna. Contohnya Bumi yang bulat pepat.

Rotasi yang sangat cepat pada benda juga bisa membuat bentuk bulat tadi berubah sehingga bentuknya jadi lebih lonjong meskipun massanya juga cukup besar dan seharusnya bisa berbentuk bulat. Contohnya adalah planet katai Haumea.

Itu bintang dan planet. Benda-benda kecil di Tata Surya seperti asteroid, komet dan sebagian satelit atau bulan justru bentuknya tidak beraturan. Ini karena benda-benda tersebut memiliki massa yang kecil sehingga gravitasinya pun kecil. Akibatnya, tekanan dari dalam benda lebih besar. Tidak tercapai kesetimbangan dan gravitasi tidak bisa memaksa benda tersebut untuk memiliki bentuk bola. Akibatnya benda akan memiliki ukuran yang tidak beraturan.

Selama tidak ada pengaruh gravitasi dari benda di sekitarnya, benda-benda antariksa akan cenderung mempunyai bentuk berupa bola. Ketidaksempurnaan bentuk bola itu menjadi petunjuk bahwa pengaruh gravitasi itu ada dan mempengaruhi rupa benda-benda antariksa yang kita kenal saat ini.

Demikian penjelasan singkat mengapa bintang dan planet, termasuk juga Bumi berbentuk bulat, bukan datar atau tidak beraturan.
Foto dari teleskop Hubble yang menunjukkan hilangnya bintang N6946-BH1 dari galaksi NGC 6946. Kredit :NASA, ESA, and C. Kochanek (OSU)
SpaceNesia - Ketika sebuah bintang raksasa, N6946-BH1, yang terletak di galaksi NGC 6946 hilang tiba-tiba pada tahun 2015, para astronom pun mengarahkan dua mata tertajam manusia, teleskop Hubble dan Spritzer, untuk mencarinya. Namun, apa daya, bintang yang berukuran 25 kali lipat dari matahari tersebut sudah hilang tanpa meninggalkan jejak.

Sebenarnya, cahaya N6946-BH1 sudah mulai melemah sejak tahun 2009. Oleh karena itu, para astronom pun memonitor  galaksi terletak 22 juta tahun cahaya jauhnya dari bumi tersebut menggunakan Teleskop Binokuler Besar di Arizona. Mereka menunggu N6946-BH1 untuk meledak sebagai supernova sebelum menjadi lubang hitam.

Baca Juga : 10 Fakta Unik Alam Semesta

Akan tetapi, tampaknya N6946-BH1 melompati tahap supernova dan langsung menjadi lubang hitam. Para astronom yang mengamati kematian N6946-BH1 mengungkapkan dalam studi baru mereka bahwa sebanyak 30 persen bintang raksasa mungkin menghilang begitu saja menjadi lubang hitam tanpa terdeteksi manusia.

Scott Adams, mantan siswa Ohio State University yang meraih gelar doktor sebagai penulis studi tersebut, mengatakan dalam siaran pers, N6946-BH1 adalah satu-satunya supernova gagal yang kita temukan dalam tujuh tahun pertama survei kita. Selama periode ini, enam supernova normal telah terjadi pada galaksi NGC 6946. Hal ini menunjukkan bahwa 10 hingga 30 persen bintang mati begitu saja sebagai supernova gagal.

Walaupun bertolak belakang dengan pandangan tradisional yang berkata bahwa sebuah bintang hanya bisa menjadi lubang hitam jika sudah bertransformasi menjadi supernova, astronom Krzysztof Stanek yang juga menulis studi tersebut berkata bahwa teori baru ini lebih masuk akal. Sebab, supernova meledakkan mayoritas lapisan luar bintang dan hanya meninggalkan sedikit massa untuk membentuk lubang hitam raksasa.

Christopher Kochanek, astronom di Ohio State University dan penulis lain dari studi tersebut, juga menambahkan, jika sebuah bintang ternyata bisa langsung menjadi lubang hitam tanpa melewati fase supernova, maka tidak heran bila supernova dari bintang raksasa menjadi sesuatu yang langka.

Baca Juga : Betelgeuse, Bintang Raksasa Yang sedang Sekarat
Fakta Unik Alam Semesta

SpaceNesia - Rahasia alam semesta yang teramat luas ini takkan pernah mampu diungkap secara ilmiah seluruhnya. Tapi sifat dasar manusia yang selalu penasaran dan memiliki rasa ingin tahu yang tak kalah besar, membuat kita terus berusaha mengungkap setiap rahasia ilmu pengetahuan yang terkandung didalamnya.

Dalam dua abad terakhir, ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat. Dan ini membuka gerbang yang membuat ilmuwan mampu mengurai beberapa rahasia semesta yang luar biasa. Bahkan seringkali, fakta yang diungkap begitu fantastis hingga membuat kita sulit percaya.

Berikut ini adalah daftar fakta-fakta tentang alam semesta


1.Bintang Berkecepatan tinggi (Hypervelocity Star/HVS) 


ini adalah fakta teraneh dimana orang awam melihat bahwa bintang akan berada di tempatnya dengan gerakan sangat-sangat lama,justru ada bintang yang berubah tempatnya dengan kecepatan sangat-sangat cepat.bintang yang satu ini adalah bintang yang memiliki sifat aneh,yaitu terlempar dari galaksi biamsakti akibat Konsekuensi dari lubang hitam masif di pusat galaksi.diprediksi oleh J.G. Hills pada tahun 1988 dan ditemukan pada tahun 2005 oleh W.Brown,J.Geller,S.Kenyon,dan M kurtz.contoh dari bintang ini adalah HE 0437-5439.HE 0437-5439 adalah bintang HVS yang berasal dari Awan Magellan Besar yang terlempar berkecepatan 2,6 juta km/j saat setelah kelahirannya.pelemparannya juga disebabkan oleh lubang hitam di gugus bintang AMB.


2.KIC 8462852/Bintang Tabby yang meredup secara drastis           

Ilustrasi bintang Tabby yang ditutupi megastruktur alien. Kredit: NASA
ini adalah kejadian aneh yang pernah viral dimana bintang ini terjadi perubahan fluktuasi kecemerlangan bintang tabby secara drastis,hingga SETI(institut pencari makhluk cerdas) menginvestigasi bintang ini dengan Teleskop Radio Allen untuk mencari sinyal di bintang tersebut.

Bintang KIC 8462852 adalah bintang di rasi Cygnus yang kadang kecemerlangannya menurun 20%.ditemukan tahun 2015 Oleh Tabetha Boyajian.tidak ada yang secara pasti mengapa ini bisa terjadi,namun banyak hipotesis yang menyebabkan menrunnya kecemerlangan bintang KIC 8462852.sungguh aneh dan misteri.

3.Galaksi tenyata memiliki sifat kanibal


maksudnya,ada galaksi yang bersifat ‘memakan’ galaksi lain.hal aneh ini telah lama dipercayai oleh Astronom.tapi yang menjadi aneh adalah mengapa galaksi ada yang memiliki sifat tersebut.salah satu contoh galaksi kanibal adalah 2MASX J16270254+4328340.

2MASX J16270254+4328340 adalah galaksi yang ditemukan di gugus galaksi dengan klasifikasi Spiral A.berlokasi di Rasi Herkules dengan Koordinat RA 16j27m01d,Dec+43,28,40.                        

4.Exoplanet Berwarna lebih Gelap dari arang


Exoplanet yang dimaksud adalah Exoplanet Kepler-1b yang mengorbit bintang GSC 03549-02811 A. jika Exoplanet ini mentransit Bintang induknya,maka dapat dikatakkan akan seperti seekor lalat yang melintasi lampu mobil.

Gelapnya Exoplanet ini diketahui dari albedo geometrinya (albedo adalah perbandingan sinar yang diterima dan yang dipantulkan) yang sangat rendah pada tahun 2011.nama tidak resminya akan dipanggil sebagai Erebus,dewa kegelapan.


5.Exoplanet Es yang dibakar oleh Bintang induknya

Planet Gliese 436b
ada exoplanet yang sangat dingin dan ber-es namun terbakar.exoplanet teresbut bernama Gliese 436 b.walaupun ia dibakar oleh bintangnya (Gliese 436),esnya masih padat karena memiliki jumlah air yang sangat banyak.ukuran Exoplanet ini kira-kira sedikit lebih besar dari Planet Neptunus.suhu permukaan Gliese 436 b adalah 245 derajat Celsius.

6.Ruang Hampa di alam semesta tidaklah benar-benar hampa.


alam semesta berisi ruang hampa dengan benda-benda langit,itu memang benar.tapi faktanya hampanya alam semesta tidak hampa.Konstanta Kosmologi alam semesta mungkin berhubungan dengan Energi titik nol,dimana ia berasal dari fluktuasi kuantum.dan energi yang mengisi ruang hampa adalah Energi Hampa/Vakum.energi ini muncul dari dua partikel,satu positif dan satu negatif yang tiba-tiba muncul entah darimana,lalu kedua partikel tersebut menabrak secara bersamaan,dan menghasilkan energi hampa.kepadatan energi ini sekitar 10^120,terlalu tinggi untuk memperbolehkan formasi struktur terjadi.

7.TV Statis yang ada di TV Jadul berasal dari sisa-sisa Dentuman Besar (Big Bang Theory)


1% Tampilan TV statis  (TV ber-noise) dari TV Jadul yang kamu lihat berasal dari radiasi gelombang mikro dentuman besar yang berasal dari alam semesta yang berlatar belakang gelombang mikro kosmis. ini disebabkan karena TV dan Radio sangat sensitif terhadap Gelombang Mikro ini.gelombang mikro ini tercipta dari cahaya yang terbentang akibat perluasan alam semesta.                           

8.bintang-bintang yang kamu lihat adalah masa lalu


walaupun cahaya adalah materi tercepat di alam semesta (299.792.458 m/d) tapi bintang-bintang tersebut berjarak sangat sangat sangat jauh dari kita,sehingga harus membutuhkan waktu dalam jangka sangat panjang.bila kalian melihat bintang yang sampai ke bumi,itu berarti bintangnya telah mati.

jika alam semesta baru berumur 4000 Tahun,tapi kondisinya seperti sekarang maka langit bumi hanya dihiasi sedikit sekali bintang-bintang dan tidak ada bentangan bimasakti,belum lagi benda langit yang jaraknya lebih dari 4000 tahun (cahaya).

9.NASA pernah merencakan untuk meledakkan bulan


tahun 1958,USAF berkerjasama dengan NASA untuk membangun sebuah proyek yang bernama Proyek A119 atau juga dikenal sebagai ‘Kajian tentang penerbangan untuk penelitian bulan’,yaitu dengan meledakkan bulan dengan Bom Nuklir yang diharapkan dapat memecahkan misteri Ilmu Keplanetan tentang Bulan dan Eksogeologi Bulan.namun,proyek ini tidak pernah dilanjutkan.

kemudian,LCROSS milik NASA yang membawa Roket Centaur mengalami Anomali sensor yang menyebabakan Roket Centaurnya menabrak Bulan.hasilnya,NASA menemukan adanya air di Bulan

10.Bumi pernah memiliki 2 Bulan


walaupun Satelit bumi yang kita kenal hanyalah 1,yaitu bulan tapi faktanya CSS (Survei Langit Katalina) menemukan 1 Asteroid yang juga mengorbit bumi,yaitu 2006 RH120 (sekarang,asteroid ini telah pergi)

Asteroid 2006 RH120 adalah Asteroid Amor yang memiliki Magnitudo Absolut 29,5-29,9 v,mengorbit bumi selama 31 Tahun dengan ketidakpastian 6.33 Hari,periode rotasinya adalah 2,75 Menit dan jarak antara titik terdekat dari orbit osilasi dua benda adalah 532.843,784 Km.

asteroid ini ditangkap oleh gravitasi bumi dan bulan sehingga menjadi bulan bumi dalam waktu sementara saja,karena pada tahun 2007 asteroid ini telah pergi.walaupun demikian,penemuan 2006 RH120 adalah bukanlahpenemuan anomali biasa
SpaceNesia - Supernova Gagal apa itu?,mungkin itu adalah kata-kata yang menarik bagi kita karena belum pernah mendengar Supernova Gagal.namun apakah itu Supernova Gagal?

kita sudah tahu bahwa setiap bintang bermassa besar akan mengalami supernova (baca apa itu Supernova),tetapi dalam kasus yang langka ini ada bintang yang gagal melakukan supernova sehingga disebut Supernova Gagal (Failed Supernova).

jadi,Supernova gagal adalah Peristiwa Astronomi yang terjadi pada saat-saat tertentu dimana tiba-tiba sebuah bintang memulai Supernova dan langsung terbentuk lubang hitam,namun kemudian Supernovanya tidak meningkat ke tingkat ledakan yang lebih tinggi dikarenakan lubang hitam yang baru lahir (disebut Lubang Hitam-berbintang) memakan supernova yang baru muncul.

sampai sekarang,hanya ada 2 Supernova Gagal yang teramati :

1.NGC3021-CANDIDATE-1,yaitu supernova gagal yang terletak di Galaksi NGC 3021,tepatnya 09j50m55,39d +33d33mb14.5db.NGC3021-CANDIDATE-1 mendominasi Fluks cahaya gugus dan merupakan penghuninya yang paling masif, yang mana Konsisten dengan itu menjadi bintang berikutnya yang meledak.

Kredit : HST / ACS (ResearchGate)
2.N6946-BH1,yaitu Supernova yang gagal dan merupakan bintang Raksasa N6946-BH1 yang awalnya masih ada pada tahun 2007 dan menghilang pada tahun 2015,pada tahun 2009 bintang tersebut melakukan Supernova dengan kecerahan 1 juta kali lipat dari matahari selama beberapa bulan.tetapi,ia sepertinya telah menghilang sejak tahun 2015.

(Gambar N6946-BH1 pada cahaya tampak dan Inframerah dekat)

Kredit : NASA / ESA / HHT (spacetelescope.org)

Apa itu Supernova Gagal?

Bintang Fomalhaut (tengah) bersama cincinnya dalam citra panjang gelombang milimeter
Bintang Fomalhaut (tengah) bersama cincinnya dalam citra panjang gelombang milimeter. Kredit: ESO
SpaceNesia - Bukan cuma planet yang punya cincin, bintang pun juga bisa. Salah satu bintang yang diketahui memiliki cincin adalah bintang Fomalhaut. Mengapa bintang ini bercincin dan bagaimana proses pembentukan cincinnya?

Fomalhaut adalah salah satu bintang yang bersinar paling terang di langit malam Bumi. Terletak pada jarak kira-kira 25 tahun cahaya jauhnya, bintang ini merupakan salah satu bintang dengan jarak terdekat dari Bumi kita. Ia dapat ditemukan di rasi bintang Piscis Austrinus.

Cincin yang mengelilingi bintang Fomalhaut diketahui terdiri dari campuran debu dan gas kosmik yang berasal dari komet yang ada di sana, yang mana para astronom bisa menyebutnya sebagai eksokomet atau komet ekstrasurya. Eksokomet tersebut membentuk cincin karena saling bertabrakan satu sama lain.

Lingkungan di sekitar bintang Fomalhaut saat ini memang sangat bergejolak. Gejolak tersebut menyerupai periode awal di Tata Surya kita sendiri yang dikenal sebagai era Late Heavy Bombardment, yang terjadi sekitar empat miliar tahun yang lalu.

Pada era ini, sejumlah besar objek berbatu meluncur ke Tata Surya bagian dalam dan bertabrakan dengan planet terestrial muda, termasuk Bumi, di mana mereka membentuk kawah-kawah di planet-planet terestrial tersebut, yang kini buktinya sudah banyak ditemukan berada di permukaan planet seperti Merkurius dan Mars.

Karena memiliki cincin inilah, kita bisa tahu bahwa Fomalhaut merupakan bintang yang masih relatif muda. Usia bintang "tetangga" Matahari kita ini diperkirakan baru sekitar 2 × 10⁸ tahun.

Fomalhaut diketahui dikelilingi oleh beberapa cincin, dan yang terlihat pada gambar dalam panjang gelombang milimeter di atas ini yang diambil melalui teleskop Atacama Large Milimetre/submilimetre Array ALMA) ini merupakan cincin yang terluar.

Cincin terluar diketahui berjarak sekitar 20 miliar kilometer dari pusat bintang Fomalhaut dan berdiameter sekitar 2 miliar kilometer.
 Perbandingan antara Jupiter, Saturnus, EBLM J0555-57Ab, dan TRAPPIST-1. Kredit : Universitas Cambridge
SpaceNesia - Sains selalu berkembang. Baru-baru ini, sekelompok astronom dari Universitas Cambridge berhasil meneliti bintang terkecil di alam semesta yang pernah ditemukan. Dengan ukuran hanya sedikit lebih besar dari Saturnus, tarikan gravitasi bintang ini hanya sekitar 300 kali lebih kuat dari yang manusia rasakan di Bumi.

Bintang ini kemungkinan merupakan ukuran terkecil sebuah bintang yang dapat terbentuk di alam semesta, karena ia hanya memiliki massa yang pas-pasan untuk memungkinkan proses reaksi fusi di intinya yang mengubah hidrogen menjadi helium.

Jika ada sebuah bintang yang lebih kecil dari bintang ini, maka tekanan di intinya tidak lagi cukup untuk memungkinkan proses fusi ini berlangsung. Sekadar informasi, fusi hidrogen juga merupakan sumber kekuatan Matahari yang membuat ia bisa bersinar di ruang hampa udara.

Bintang yang sangat kecil dan redup ini juga merupakan kandidat terbaik untuk mendeteksi planet mirip Bumi yang dapat memiliki air dalam bentuk cair di permukaannya, seperti sistem TRAPPIST-1, sebuah sistem dengan bintang katai merah ultradingin sebagai pusatnya yang dikelilingi oleh tujuh planet seukuran Bumi.

Bintang terkecil sejagad yang pernah diketahui ini disebut sebagai EBLM J0555-57Ab (ya, Anda baru saja mengabaikan untuk membaca namanya, sebut saja Mawar). Bintang ini terletak pada jarak sekitar enam ratus tahun cahaya jauhnya dari Bumi.

Dari pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa bintang ini adalah bagian dari sistem biner, yakni sistem bintang ganda yang saling mengorbit satu sama lain. Bahkan, bintang ini berhasil ditemukan saat ia sedang melewati wajah bintang pendampingnya yang jauh lebih besar dalam pandangan dari Bumi, sebuah metode yang biasanya digunakan untuk menemukan planet asing.

"Penemuan kami mengungkapkan betapa kecilnya bintang ini," kata Alexander Boetticher, peneliti utama dalam studi ini, yang merupakan seorang astronom di Laboratorium Cavendish dan Astronomi Cambridge. "Jika saja bintang ini terbentuk dengan massa yang sedikit lebih rendah, reaksi fusi hidrogen pada intinya tidak dapat terjadi, dan bintang tersebut malah akan menjadi katai cokelat."

EBLM J0555-57Ab ditemukan oleh program Wide-Angle Search for Planets (WASP), sebuah program pencarian planet asing yang dijalankan dan didanai oleh Universitas Keele, Universitas Warwick, Universitas Leicester, dan Universitas St. Andrews.

Seperti yang sudah disinggung di atas, bintang EBLM J0555-57Ab terdeteksi saat ia melewati wajah bintang pendampingnya yang lebih besar dalam pandangan dari Bumi, membentuk apa yang disebut sebagai gerhana sistem biner. Saat terjadi gerhana sistem biner, bintang pendampingnya yang lebih besar menjadi tampak redup secara periodik, sebuah tanda bahwa ada sesuatu yang mengorbitinya.

Berkat gerhana unik ini, kelompok astronom yang dipimpin oleh Boetticher dapat mengukur secara akurat massa dan ukuran dari bintang terkecil tadi. Massa bintang EBLM J0555-57Ab pun telah dihitung melalui metode Dopple menggunakan data dari spektrograf CORALIE.

"Bintang ini sangat kecil, dan kemungkinan lebih dingin daripada kebanyakan planet raksasa gas yang sejauh ini telah diidentifikasi," kata Boetticher. Bintang EBLM J0555-57Ab diketahui memiliki massa yang sebanding dengan perkiraan massa bintang TRAPPIST-1, yakni hanya 8% dari massa Matahari, namun memiliki radius yang hampir 30% lebih kecil dari TRAPPIST-1.

"Bintang kecil seperti ini dapat memberikan kondisi optimal untuk penemuan planet mirip Bumi, serta juga untuk mengeksplorasi atmosfer mereka dari jarak jauh," kata salah satu peneliti dalam studi ini, Amaury Triaud, peneliti senior di Institut Astronomi Cambridge. "Namun, sebelum kita bisa mempelajari keberadaan planet, kita perlu benar-benar memahami bintang ini secara mendasar."

Meskipun bintang kerdil seperti ini cukup umum di galaksi Bimasakti, bahkan di alam semesta, namun bintang dengan ukuran dan massa kurang dari 20% dari Matahari masih kurang dipahami karena sulit untuk dideteksi.

Proyek EBLM, yang mengidentifikasi bintang dalam penelitian ini, bertujuan untuk membuka wawasan tentang hal itu. Jadi, bila ada yang bertanya bintang apa yang berukuran paling kecil di alam semesta yang diketahui saat ini? Anda sudah tahu jawabannya, kan?

Sumber : Infoastronomy.org, Jurnal Astronomy & Astrophysics 
Apa Itu Supernova?
Ilustrasi Ledakan Supernova
SpaceNesia - Apa Itu Supernova?, Singkatnya supernova adalah ledakan sebuah bintang
Bintang tidak selamanya bercahaya, untuk bintang berukuran besar suatu hari akan meledak
Supernova adalah ledakan bintang, dan terlihat cahaya bintang mendadak menjadi sangat terang. 
Setelah bintang meledak, gas bintang akan membentuk Nebula.

Bintang, supernova terlihat indah oleh teleskop antariksa. Tapi disana yang terjadi sangat berbeda. Isi bintang yang awalnya berbentuk bola gas atau gelembung gas, seluruhnya akan terlempar keluar akibat gelombang kejut dari bintang itu sendiri.

Mengapa bintang meledak. Karena bintang adalah gas raksasa, tekanan dari gas dibagian luar menekan ke bagian dalam dan membentuk thermonulir alami.
Ditengah bintang yang memanas akan memancarkan cahaya dan keluar dari bintang seperti yang kita lihat sebagai cahaya matahari.

Panas bintang terus membakar gas di sekelilingnya. Gas yang terbakar tersebut adalah gas hidrogen sebagai elemen utama sebuah bintang serta menjadi bahan bakar bintang. Hidrogen juga sebagai elemen terbanyak di alam semesta bahkan elemen pertama dari asal mula pembentukan alam semesta.

Sebesar apapun gas yang menyelimuti sebuah bintang pada saatnya nanti akan habis terbakar. Proses gas hidrogen yang terbakar menghasilkan beberapa elemen yaitu Helium. Ketika gas hidrogen habis, maka bintang akan membakar semuanya termasuk gas helium sebagai gas kedua. Dan terus membakar gas atau elemen lain. Kondisi seperti ini, membuat bintang menjadi tidak stabil.

Dimulai fase tersebut sebagai fase bintang mulai membengkak dan perlahan bintang dapat berukuran sampai 10x lebih besar dari bentuk awal. Fase ini disebut fase kritis, tapi belum mencapai titik kritis tertinggi.
Ukuran bintang menjadi membesar, tapi tidak lama kembali mencuit. Bila ukuran bintang sangat besar, akan semakin besar dan meledak begitu saja.

Setelah proses tersebut sampai pada proses akhir, bintang akan meledak dan bintang sudah tamat.

Apa Itu Supernova?

Berapa lama usia bintang sebelum meledak

Tergantung ukurannya, semakin besar maka semakin cepat usia bintang dan meledak lalu mati.
Usia bintang dapat mencapai puluhan miliar tahun bila ukuran bintang relatif kecil.
Tapi mencapai beberapa miliar tahun saja bila sebuah bintang sudah di kategori ukuran bintang raksasa. Seperti klasifikasi bintang Red Supergiant, bahkan Blue Supergiant.

Seperti apa tahap dari bintang yang meledak 

Tahap bintang bersinar dari keterangan gambar bawah, awal bintang bersinar di sisi kiri, lalu mulai membengkak menjadi raksasa merah.
Dan tahap akhir pada sisi kanan, bintang akan melontarkan semua isinya menjadi supernova.
Pada gambar kanan atas, terlihat bentuk biru adalah nebula (sisa gas yang terlempar oleh bintang). Dan ditengah bentuk titik putih, adalah sisa materi padat bintang yang tersisa. Disebut White Dwarf atau bintang kerdil putih. Tetapi bintang kerdil hanya terbentuk bila ukuran bintang hanya berukuran seperti matahari kita.
Bila ukuran bintang mencapai 4-5 x lebih besar, kemungkinan bintang kerdil tidak terjadi. Sisa materi padat bintang akan membentuk bintang neutron bahkan bintang magnestar atau bintang magnit.
Bila ukuran bintang sangat besar, bahkan puluhan kali dari ukuran matahari. Benda kecil tersebut akan berbeda, dan berwarna hitam. Sisa bintang akan menjadi Black Hole atau lubang hitam.

Apa Itu Supernova?

Berapa lama usia matahari

Bila bintang akan meledak, bagaimana dengan matahari kita apakah suatu saat nanti akan meledak. Kapan matahari akan berhenti bersinar.
Saat ini usia matahari mencapai 4 miliar tahun dihitung setelah lahir menjadi bintang yang bersinar.
Sekitar 7 miliar tahun kedepan, matahari mulai tidak stabil, tapi baru memasuki masa kritis di usia 10 miliar tahun. 
Matahari akan meledak pada usia 11 miliar tahun. Proses ini akan mengakibatkan tata surya kita lenyap dari peta alam semesta.
Usia matahari cukup lama, dan aman bagi koloni manusia saat ini untuk menyiapkan diri kabur dari Bumi.

Apa Itu Supernova?

Usia bintang berdasarkan ukuran 

Evolusi bintang terkait dengan ukuran besar dan kecil. Semakin besar ukuran bintang maka usianya semakin singkat. Kebalikan bila ukuran bintang lebih kecil, maka usianya menjadi sangat lama.

Klasifikasi bintang dibawah ini
  • Bintang Brown Star atau bintang kerdil akan berwarna coklat. Usianya paling lama untuk bersinar. Menjadi bintang yang akan terus menyala dibanding ukuran bintang lain yang lebih besar. Sayangnya bintang ukuran ini tidak cukup memberikan cahaya yang kuat bagi planet.
  • Bintang Red Star, atau bintang cahaya merah. Akan bersinar lebih lama dan cahayanya tidak terlalu panas. Tapi ketika meledak akan melemparkan gas. Sisa bintang akan menjadi bintang kerdil putih
  • Bintang berwarna kuning, seperti matahari kita. sebelum meledak akan membengkak menjadi raksasa merah. Dan menjadi nebula atau lebih dikenal dengan Planetary nebula. Berakhir menjadi bintang kerdil putih
  • Bintang berwarna lainnya adalah Red Supergiant, Blue Supergiant. Bintang super raksasa merah akan membentuk nebula, bila ukurannya beberapa kali dari matahari. Inti bintang yang tersisa akan membentuk bintang neutron bahkan bintang magnastar
  • Bintang yang berbahaya adalah bintang berwarna biru. Cahaya bintang sangat terang, dan ukurannya sangat besar. Umumnya bintang tipe ini akan memasuki raksasa merah, atau langsung masuk ke tahap Supernova 2. Sisa bintang akan memadat kembali, dan berbuah menjadi Black Hole atau lubang hitam
Apa Itu Supernova?


Seperti apa bentuk nebula.

Bentuknya bisa berbeda beda. Intinya, semua gas yang awalnya berada di tengah sebagai bintang. Akan terlempar ke segala arah.
Dari Bumi akan terlihat seperti lukisan alam semesta, walau benda tersebut adalah gas yang terlempar akibat kejut dari angin ledakan bintang.

Apa Itu Supernova?

Apakah bintang meledak berbahaya

Bila matahari memasuki tahap kritis, bukan saja berbahaya tapi tata surya kita sudah selesai. Tahap awal kemungkinan Bumi akan tertelan oleh besarnya matahari ketika membengkak.
Seandainya bumi selamat ketika matahari meledak. Pada sisi yang menghadap ke matahari, panasnya meningkat mencapai 15x dari panas biasa.
Bumi dan planet lain juga tidak berada di tempat biasa. Dan lepas karena matahari sudah hancur, tidak ada gravitasi yang mengikat / menarik semua planet.

Bila terjadi supernova di dekat Bumi, apakah sama berbahaya.

Para ilmuwan mengatakan yah.
Tapi ada batas aman dimana kondisi bumi tidak terancam oleh gelombang kejut dari bintang yang meledak di sekitar tata surya.
Titik aman berada pada jarak 50-100 tahun cahaya dari bintang yang meledak. Sedangkan jarak 30 tahun cahaya dari bintang, Bumi dapat dikatakan tidak aman.

Apa yang terjadi di Bumi bila ada sebuah bintang yang jaraknya hanya 30 tahun cahaya dan meledak.
Dr mark Reid seorang ahli astronom dari Harvard Smithsonian mengatakan seperti ini
Bila terjadi supernova atau ledakan bintang pada jarak 30 tahun cahaya dari Bumi. Dampaknya akan besar bagi bumi, karena dapat mengakibatkan kepunahan masal. SinarX dan sinar Gamma yang energik dari supernova dapat menghancurkan lapisan ozon. Dimana lapisan tersebut melindungi bumi dari radiasi matahari kita sendiri seperti cahaya ultraviolet yang masuk ke permukaan bumi.
Dampak lain, oksigen dan nitrogen di atmofer akan mengionisasi.
Dampak di laut, terumbu karang akan sangat terpengaruh. Dan memutus mata rantai makanan laut.

Bila jaraknya cukup aman, apakah bumi akan aman

Kali ini bintang yang meledak cukup jauh. Bumi tidak aman sepenuhnya walau dikatakan berada pada jarak aman minimum. Bumi akan di bombardir oleh radiasi sinar gamma dan radiasi lain. Setidaknya dapat merubah iklim bumi. Jadi jarak aman sebuah supernova ke bumi. Bila sebuah bintang meledak dan berada diatas 50 tahun cahaya atau lebih.
Apakah perkiraan jarak 50 tahun cahaya cukup tepat. Studi baru dimana ledakan supernova aman jika bintang meledak pada jarak 25 tahun cahaya, tapi diperbaharui 50 tahun cahaya. Mei 2017 menjadi 300 tahun cahaya.
Penelitian dari tanah di bulan dan laut purba, tercatat adanya jejak ledakan supernova pada 3,2 juta tahun lalu, dan 1,7 juta tahun lalu. Ditemukan isotop besi-60.
Perkiraan angka 300 tahun cahaya dari ledakan supernova adalah aman, baru perkiraan. Karena ledakan bintang akan mengirim radiasi ke segala arah dan dapat mencapai permukaan bumi.
Tim peneliti Melott dari univeristas Kansas mengatakan bila ledakan bintang terjadi dengan jarak 50 tahun cahaya, artinya 50 tahun kemudian bumi akan dihantam radiasi dan menyebabkan kerusakan signifikan.
Fosil purba menjadi bukti bahwa supernova yang meledak 2,6 juta tahun lalu masih dapat diteliti. Ada sejumlah kepunahan dijaman itu.

Tidak ada supernova yang akan meledak dalam waktu dekat.

Johannes Kepler ahli astronomi di tahun 1604 pernah melihat sebuah bintang sangat bersinar terang dimalam hari. Tapi benda tersebut adalah supernova yang jaraknya 20 ribu tahun cahaya dari Bumi.
Bintang Betelgeuse jaraknya 430 tahun cahaya dari Bumi sedang memasuki masa kritis. Tapi bumi aman dengan ledakan bintang ini, karena jaraknya cukup jauh.
Kandidat paling dekat adalah bintang Pegasi b, memiliki ukuran sedikit lebih besar dari Matahari.

Sumber : Obengplus

Apa Itu Supernova?

- Copyright © ABA BLOG - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -