Popular Post

Recent post

Tampilkan postingan dengan label Teori. Tampilkan semua postingan

Mampukah Kita Bertahan Hidup di Planet Mars?
The Martian. Kredit: 20th Century Fox
SpaceNesia - Mampukah Kita Bertahan Hidup di Mars?. Dekade terakhir ini, Mars selalu menjadi bahan perbincangan para astronom, terutama yang memiliki misi untuk mendarat di sana. Seperti NASA misalnya, yang ingin mengirim manusia ke Planet Merah pada tahun 2030. Ada pula SpaceX yang ingin tiba di sana lebih cepat, dengan rencana mendaratkan manusia pada 2024.

Mars juga menjadi tema favorit di Hollywood, katakanlah ada film seperti The Martian dan Life, yang mengeksplorasi apa yang mungkin kita temukan setelah kita akhirnya mencapai planet tetangga kita. Tetapi, kebanyakan dari mereka tidak menjawab pertanyaan terbesar: begitu kita sampai di sana, bagaimana kita akan bertahan hidup untuk jangka panjang?

Sembilan puluh lima persen atmosfer Mars adalah karbon dioksida, permukaan planet tersebut juga terlalu dingin untuk menopang kehidupan manusia, dan gravitasinya bahkan hanya 38% dari gravitasi Bumi. Hal-hal itu membuat permukaan Mars menjadi begitu ekstrem. Bagaimana NASA akan sampai di sana? Bagaimana kita bisa bertahan melawan lingkungan Mars yang tak ramah itu?

Belajar Cara Mendarat

Bepergian ke Mars hanyalah bagian pertama dari perjalanan. Butuh paling cepat 260 hari dari Bumi ke Mars. Lalu, setelah kita sampai di sana, tantangan selanjutnya adalah: mendarat di permukaan planet dengan aman.

Apa jenis sistem pendaratan yang bisa membuat para astronot Mars nantinya aman untuk mendarat dan update lokasi di media sosial?

Sejak tahun 2007, para ilmuwan pernah mempertimbangkan empat kemungkinan solusi untuk mendaratkan astronot ke permukaan Mars. Ide pertama adalah Sistem Pendaratan Berkaki. Dalam sistem ini, kendaraan pengangkut para astronot akan dilengkapi kaki-kaki penahan, yang mana bisa digunakan untuk mendarat maupun untuk kembali lepas landas.

Kedua, Sistem SLS, atau Sistem Pendaratan Bertali. Sistem ini akan menggunakan alat semacam drone raksasa untuk menurunkan kendaraan berawak dan peralatan lain ke permukaan Mars secara perlahan. Sistem SLS ini pun bisa digunakan untuk lepas lantas kembali.

Solusi ketiga yang dibahas adalah Sistem Pendaratan Berkantong Udara, yang mana sistem ini akan memanfaatkan kantong udara untuk mendaratkan kendaraan berawak. Namun, sistem yang satu ini bukan pilihan terbaik untuk misi berawak karena terlalu berisiko.

Dan solusi pendaratan terakhir adalah, Sistem Pendaratan Sensorik, yakni sistem pendaratan yang memanfaatkan teknologi untuk mencari lokasi pendaratan ideal (seperti permukaan yang lembut atau area lapangan yang luas tanpa tebing) sebelum akhirnya melakukan pendaratan.

Dari keempat solusi ini, beberapa sudah sempat diuji coba di Bumi, walau belum pernah ada uji coba dengan langsung misi berawak. Hasil uji coba menyatakan bahwa sistem pendaratan berkaki dan sistem pendaratan bertali adalah yang paling aman untuk manusia.

Nah, setelah kita berhasil mendarat Mars, apa yang terjadi selanjutnya?

Membangun Habitat

Tidak mungkin astronot yang mendarat di Mars akan tinggal di kapal antariksanya selamanya, mereka akan perlu habitat atau tempat tinggal permanen di sana.

Sejauh ini, NASA sudah mempertimbangkan tempat tinggal seperti apa yang kita perlukan untuk bertahan hidup di permukaan Mars. Setidaknya, ada enam perusahaan swasta yang ditugaskan untuk mulai merancang prototipe habitat sejak tahun 2016.

Semua habitat ini kemungkinan akan memiliki beberapa kesamaan: mereka harus mandiri, tertutup terhadap atmosfer tipis Mars, dan mampu mendukung kehidupan untuk waktu yang lama tanpa dukungan dari Bumi.

Kesamaan lainnya adalah, habitat-habitat ini rupanya mengadopsi Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). ISS dianggap telah benar-benar mengajarkan kita mengenai seperti apa habitat yang baik bagi manusia luar angkasa. ISS memiliki lingkungan dan sistem pendukung kehidupan, sistem daya, dan hal-hal yang diperlukan manusia lainnya.

Fiksi ilmiah juga melakukan pekerjaan hebat yang membantu para ilmuwan untuk membayangkan dan mendesain seperti apa misi Mars di masa depan ini nantinya, seperti film The Martian yang telah menggambarkan jenis habitat yang kini sedang benar-benar dikembangkan oleh NASA.

Mampukah Kita Bertahan Hidup di Planet Mars?
Daun buatan. Kredit: Universitas Teknologi Eindhoven

Bawa Makanan atau Menanamnya?

Membawa banyak makanan dari Bumi akan menambah beban kendaraan yang akan digunakan untuk pergi ke Mars. Jadi, solusinya adalah: para astronot akan menanam makanannya sendiri.

Menjaga persediaan makanan dan obat-obatan di Mars adalah cara terbaik untuk membuat habitat menjadi lebih mandiri tanpa dukungan dari Bumi. Tetapi, dengan atmosfer Mars yang tipis dan kurang banyaknya sinar Matahari di sana, menanam jenis sayuran apapun bisa jadi lebih sulit.

Untungnya, kita bisa memanfaatkan teknologi. Muncullah sebuah ide brilian dari para ilmuwan: membuat daun buatan. Daun buatan ini bisa dikonsumsi, dirancang untuk bisa tumbuh dalam kondisi yang ekstrem seperti di Mars.

Daun-daun ini, yang terbuat dari karet silikon, hanya butuh sedikit sinar Matahari dan mengubahnya menjadi tenaga yang cukup untuk bahan-bahan yang diperlukan reaksi kimia untuk membuat obat dan senyawa lainnya.

Menanam kentang di dalam habitat juga rupanya bisa dilakukan. Alih-alih terkena radiasi Mars yang ekstrem, kentang yang ditanam di dalam habitat bisa lebih terlindungi. Tingkat karbon dioksida yang tinggi di Mars juga akan menguntungkan tanaman kentang, dengan hasil produksi yang bisa meningkat dua hingga empat kali lipat jika dibandingkan dengan menanamnya di Bumi.

Bila kamu ingin jadi astronot Mars tapi tidak suka kentang, mulailah mencicipinya hari ini~

Tinggal Menunggu Waktu

Mars telah sukses membuat imajinasi manusia begitu liar untuk mengeksplokrasinya selama beberapa dekade terakhir ini. NASA sendiri bukan satu-satunya yang bersiap menuju Mars, sebab badan-badan pemerintah negara lain dan bahkan perusahaan-perusahaan antariksa swasta lain sudah memiliki rencana mereka sendiri untuk menuju Planet Merah.

Semoga planet Mars hanya merupakan langkah pertama kita menuju eksplorasi alam semesta. Gravitasi Mars yang rendah merupakan media sempurna untuk membangun dan meluncurkan kendaraan luar angkasa untuk misi-misi selanjutnya ke planet-planet lain.

Satu-satunya yang menghambat misi manusia menjelajahi Mars dan tata surya saat ini adalah: teknologi. Teknologi adalah titik lemah dari misi saat ini. Kita mungkin sudah memiliki cara untuk sampai ke Mars, tapi belum ada teknologi yang bisa mendukungnya.

Hanya waktu yang bisa menjawab.

Sumber : http://www.infoastronomy.org/2018/07/mendarat-dan-bertahan-hidup-di-mars.html
 Seperti Apa Bentuk Lubang Hitam?
Gargantua, ilustrasi lubang hitam paling mirip yang sebenarnya. Kredit: Wikimedia Commons
SpaceNesia -  Seperti Apa Bentuk Lubang Hitam?, Lubang hitam sering disalahartikan sebagai lubang dalam pengertian sebenarnya. Padahal, hal tersebut rupanya keliru. Ia benar-benar bukanlah lubang. Di artikel ini, saya akan coba menjelaskannya sedikit.

Banyak dari kita mungkin pernah melihat banyak ilustrasi standar dari lubang hitam di Internet; lubang hitam digambarkan sebagai cakram akresi raksasa yang terdiri atas material debu dan batuan antariksa yang di tengahnya gelap.

Ilustrasi seperti itu memang menarik, tetapi sayangnya belum cukup atau bahkan masih gagal untuk menggambarkan bagaimana bentuk fisik yang kompleks dari lubang hitam yang sebenarnya. Sebab, ketika dilihat melalui teleskop di kehidupan nyata, kemungkinan monster kosmis ini punya bentuk yang aneh.

Bagaimana Lubang Hitam Terbentuk?

Setidaknya, ada beberapa jenis lubang hitam yang diketahui di alam semesta, yakni lubang hitam supermasif, lubang hitam bermasa bintang, dan lubang hitam bermassa menengah (terlalu kecil untuk disebut supermasif, tapi terlalu besar untuk disebut bermassa bintang).

Lubang hitam bermassa bintang terbentuk dari bintang-bintang masif yang massa awalnya dimulai dengan lebih dari 20 atau 25 kali dari Matahari. Ketika bintang-bintang ini mengakhiri hidup mereka dalam ledakan supernova, inti mereka runtuh ke dalam gravitasinya sendiri.

Runtuhnya bintang tersebut akan terkandung dalam radius Schwarzschild, atau horison peristiwa, batas di mana segala material, termasuk cahaya, tidak dapat melarikan diri dari tarikan gravitasi ekstrem lubang hitam. Pada titik ini, lubang hitam dengan massa bintang terbentuk.

Lubang hitam supermasif, sementara itu, terbentuk dengan cara berbeda. Menurut teori, kemungkinan besar lubang hitam jenis ini terbentuk dari penggabungan banyak lubang hitam yang lebih kecil di awal sejarah alam semesta, dan tumbuh selama bertahun-tahun sambil melahap apa pun di dekatnya.

Lubang Hitam Berbentuk Bulat

Sama seperti kelereng, bola kasti, planet, dan bahkan bintang, lubang hitam faktanya berbentuk bulat. Kita bahkan bisa mengitarinya, asalkan masih berada di luar horison peristiwa.

Dengan kata lain, lubang hitam sebenarnya merupakan sebuah bola gelap yang memiliki kepadatan yang tak terhingga, atau yang disebut sebagai singularitas, sehingga tampaknya keliru bila kita menganggap bahwa lubang hitam merupakan lubang dalam artian sebenarnya.

Lalu, dari mana asal sebutan "lubang hitam" ini muncul? Adalah fisikawan John Wheeler (1911-2008) yang pertama kali menggunakan istilah tersebut untuk menyebut objek eksotis ini pada tahun 1967. Sebelum istilah itu populer, objek eksotis ini dikenal sebagai "bintang gelap" atau kadang-kadang "bintang beku".

Visualisasi Lubang Hitam

Ilmuwan pertama yang secara akurat memvisualisasikan lubang hitam adalah astrofisikawan asal Prancis bernama Jean-Pierre Luminet. Menurut tulisan di blog Nature, pada tahun 1978, Luminet menggunakan kartu IBM untuk mencari tahu bentuk lubang hitam.

Hemm~ Bagaimana caranya?

Pada masa itu, Jean-Pierre Luminet tidak memiliki superkomputer ketika ia menunjukkan kepada dunia seperti apa bentuk lubang hitam sebenarnya. Ia hanya tahu dari teori bahwa lubang hitam tidak memancarkan cahaya.

Ia juga tahu bahwa material di sekitar lubang hitam akan mengitari sang monster kosmis tersebut. Cahaya dari material yang berasal dari debu dan gas bintang-bintang itu, pikir Luminet, akan bisa merefleksikan bentuk lubang hitam, termasuk membentuk lengkungan dalam ruang-waktu berkat gravitasi lubang hitam yang ekstrem.

Jadi, alih-alih mencari tahu bentuk lubang hitam, Luminet mengandalkan material di sekitar lubang hitam tadi untuk mengetahui bentuk lubang hitam secara tidak langsung.

Dengan modal IBM 7040, Luminet menggunakan program komputer untuk mengalkulasikan keberadaan lubang hitam. Kemudian dengan menggunakan punch card, hasil dari kalkulasi program komputer tadi "diterjemahkan" menjadi sebuah gambar titik-titik hitam kecil yang berbentuk asimetris.

Seperti inilah visualisasi lubang hitam ala Luminet:

Visualisasi lubang hitam paling akurat. Kredit: Jean-Pierre Luminet
Tampak familiar? Ya, untukmu yang pernah menonton film Interstellar (2014), kamu mungkin tahu adanya objek bernama gargantua pada salah satu adegan di film tersebut. Itu merupakan lubang hitam supermasif dengan penggambaran paling akurat dalam sebuah film, lho~

Menariknya, visualisasi dari Luminet menggambarkan dua fenomena penting yang tidak terlihat di dalam film Interstellar. Pertama adalah, energi dan cahaya tampak lebih kuat di dekat tepi lubang hitam.

Dan yang kedua adalah efek Doppler dan efek Einstein, yang mempengaruhi rotasi cakram akresi, serta membuat cahaya cakram akresi ini tampak lebih terang di satu sisi, tergantung pada arah putaran. Dalam visualisasi Luminet, cakram akresi berputar berlawanan arah jarum jam, sehingga cahayanya lebih terang di sebelah kiri.

Nah, jadi jangan sampai salah sangka lagi mengenai lubang hitam ya, apa lagi menganggap lubang hitam sebagai vacuum cleaner. Sebab, ia hanya melahap segala materi yang berada di dalam horison peristiwanya, bukan segala materi di alam semesta.

Sumber : http://www.infoastronomy.org/2018/06/seperti-apa-bentuk-lubang-hitam.html

Seperti Apa Bentuk Lubang Hitam?

Ilustrasi perbandingan Matahari dengan bintang raksasa merah. Kredit: Wikimedia Commons
Ilustrasi perbandingan Matahari dengan bintang raksasa merah. Kredit: Wikimedia Commons
SpaceNesia - Sejak awal sejarah manusia, kita telah memahami bahwa Matahari adalah bagian sentral dari kehidupan yang kita kenal. Seiring pemahaman kita terhadap Matahari bertambah, kita jadi tahu bahwa Matahari telah lama ada jauh sebelum eksistensi manusia, dan tidak akan selamanya ada.

Setelah terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu, Matahari kita telah memulai kehidupannya sekitar 40 juta tahun sebelum Bumi kita terbentuk. Nantinya, Matahari kini tidak akan selamanya bertahan, ia akan berevolusi.

Saat ini, Matahari sendiri masih berada di tahap bintang Deret Utama, jenis bintang di mana fusi nuklir di intinya menyebabkannya memancarkan energi dan cahaya, membuat kita di Bumi mendapatkan energi yang lebih dari cukup.

Namun, Matahari takkan selamanya di tahap ini. Fase Deret Utama Matahari hanya akan berlangsung selama 4,5 sampai 5,5 miliar tahun lagi. Setelah itu, Matahari akan kehabisan pasokan hidrogen dan heliumnya, sehingga bakal mengalami beberapa perubahan serius. Dengan asumsi umat manusia masih hidup dan masih tinggal di Bumi, manusia masa depan jelas harus meninggalkan planet ini.

Sebab, perubahan serius yang akan terjadi pada Matahari adalah, lapisan terluar Matahari akan mengembang.

Pengembangan ini akan dimulai setelah semua hidrogen habis dalam inti Matahari, dan helium yang telah terbentuk di sana menjadi tidak stabil sehingga ambruk di bawah beratnya sendiri. Hal ini akan menyebabkan inti Matahari memanas dan menjadi lebih padat, menyebabkan Matahari bertumbuh besar.

Diperkirakan, mengembangnya Matahari menjadi bintang raksasa merah akan tumbuh cukup besar untuk mencakup orbit Merkurius, Venus, dan bahkan Bumi. Bahkan jika Bumi bisa bertahan dari mengembangnya Matahari, jaraknya nanti akan terlalu dekat sehingga suhunya akan sangat panas, membuatnya benar-benar mustahil bagi kehidupan untuk bertahan hidup.

Namun, para astronom juga mencatat bahwa ketika Matahari mengembang, orbit planet kemungkinan akan berubah juga.

Ketika Matahari mencapai tahap akhir dalam evolusi kehidupannya ini, ia akan kehilangan sejumlah besar massa karena terus-menerus melontarkan angin bintang yang kuat. Ketika ia tumbuh besar, ia kehilangan massa, menyebabkan orbit planet-planet berubah.

Jadi, pertanyaannya adalah, apakah ketika Matahari yang berevolusi menjadi raksasa merah akan mendorong orbit planet-planet untuk bergerak ke luar, atau akankah Bumi (dan mungkin bahkan Venus) akan dikonsumsi Matahari?

K.-P Schroder dan Robert Cannon Smith adalah dua peneliti yang telah menjawab pertanyaan ini. Dalam makalah penelitiannya, mereka menjalankan perhitungan dengan model evolusi bintang yang paling mutakhir.

Menurut Schroder dan Smith, ketika Matahari menjadi bintang raksasa merah dalam 7,59 miliar tahun mendatang, ia akan mulai kehilangan massa dengan cepat. Pada saat mencapai radius terbesar, sekitar 256 kali ukurannya saat ini, massanya akan menurun menjadi hanya 67% dari massa saat ini. Ketika Matahari mulai berkembang, ia akan menyapu tata surya bagian dalam hanya dalam 5 juta tahun.

Bagaimana dengan Bumi? Rupanya, ada kabar baik dan kabar buruk untuk pertanyaan ini. Kabar buruknya, menurut Schroder dan Smith, Bumi tidak akan bertahan dari evolusi Matahari. Meskipun Bumi akan menjauh orbitnya sekitar 50% saat Matahari mengembang, planet kita tetap tidak akan mendapatkan kesempatan. Matahari yang semakin meluas akan menelan Bumi sesaat sebelum mencapai ujung fase raksasa merah.

Begitu berada di dalam atmosfer Matahari, Bumi akan berbenturan dengan partikel-partikel gas. Orbitnya akan oleng, dan akan berputar ke dalam Matahari. Jika Bumi sedikit lebih jauh dari Matahari daripada orbitnya sekarang, yakni sekitar 1,15 AU, kemungkinan masih akan mampu bertahan. Tapi nyatanya tidak.

Dan sekarang untuk kabar baiknya, jauh sebelum Matahari memasuki fase raksasa merah, zona laik huni (seperti yang kita tahu sekarang) akan hilang. Astronom memperkirakan bahwa zona ini akan meluas melewati orbit Bumi dalam sekitar satu miliar tahun mendatang.

Matahari yang semakin panas akan menguapkan lautan Bumi, dan kemudian radiasi Matahari akan meledakkan radiasi hidrogen ke segala penjuru ruang. Bumi tidak akan pernah memiliki lautan lagi, dan akhirnya akan menjadi kering.

Tunggu, ini kabar baik? Hemm, ya~

Ya, itu kabar baik. Sisi positifnya adalah, kita jadi tahu bagaimana masa depan Bumi nantinya, sehingga bisa mempersiapkan untuk meninggalkan planet rumah kita sebelum ia ditelan oleh Matahari.

Ketika Matahari menjadi raksasa merah, zona layak huni baru diperkirakan akan membentang dari jarak 49,4 AU ke 71,4 AU (1 AU = 150 juta km). Yang berarti dunia yang sebelumnya dingin, seperti objek trans-Neptunus, akan mencair dan menghangat. Sehingga air dalam bentuk cair akan hadir di Pluto.

Mungkin planet kerdil Eris akan menjadi planet rumah baru kita, sementara planet kerdil Pluto akan menjadi Venus baru, dan Haumeau, Makemake, dan sisanya akan menjadi "tata surya" bagian luar. Tapi, apakah manusia memang masih tinggal di tata surya dalam miliaran tahun mendatang? Atau sudah menjadi peradaban penjelajah galaksi?

Sumber : http://www.infoastronomy.org/2018/06/menanti-matahari-berevolusi-menjadi-raksasa-merah.html
Ilustrasi lubang hitam. Kredit: Wikimedia Commons
SpaceNesia- Apa itu lubang hitam? Banyak yang berpikir bahwa lubang hitam adalah penyedot segala materi di alam semesta bagaikan pembersih debu. Padahal hal itu keliru, lubang hitam adalah objek yang biasa-biasa saja, mereka juga menggunakan gravitasi dengan cara yang sama dengan objek-objek lainnya.

Alih-alih seperti penyedot debu, lubang hitam merupakan sebuah objek di alam semesta yang begitu masif dan padat, sehingga apapun yang terperangkap dalam tarikan gravitasinya yang kuat tidak akan dapat melarikan diri darinya.

Lubang hitam adalah bagian yang menakjubkan dari alam semesta kita. Di artikel ini, saya akan coba jabarkan tentang apa yang telah manusia pahami sejauh ini tentang lubang hitam.

Kelahiran

Di alam semesta, ada yang dikenal sebagai lubang hitam bermassa bintang, yakni lubang hitam yang memulai hidupnya setelah kematian sebuah bintang masif. Ya, lubang hitam jenis ini lahir ketika bintang yang setidaknya memiliki massa 10 kali lebih besar daripada Matahari kita kehabisan bahan bakar karena telah menyatukan hidrogen menjadi helium, dan helium menjadi elemen lain, sampai menghabiskan karbonnya, oksigennya, dan besi di intinya.

Dengan sisa logam berat di inti bintang ini, serta tidak ada yang tersisa untuk disatukan, maka bintang tersebut mencapai akhir masa hidupnya. Ia akan meledak dalam supernova yang dahsyat, melontarkan lapisan terluarnya ke segala arah, sementara intinya runtuh ke dalam dirinya sendiri akibat tak mampu menahan gravitasinya.

Yang menarik, jika ada sisa inti bintang yang runtuh ini memiliki cukup massa — sekitar tiga kali massa Matahari — maka akan menjadi lubang hitam, yang disebut sebagai lubang hitam bermassa bintang tadi.

Hubungan antara kelahiran lubang hitam dan kematian bintang masif yang membentuknya adalah kejadian yang cukup umum di alam semesta. Bintang dan lubang hitam saling terjalin erat, terutama di wilayah alam semesta di mana tingkat pembentukan bintang terjadi pada kecepatan yang ekstrem.

“Sebenarnya sangat umum untuk menemukan bintang mati di tempat di mana bintang-bintang baru terbentuk, karena yang paling masif tidak hidup lama. Mereka cepat berevolusi,” kata Bentz, astronom dari Universitas Georgia, AS. “Masa hidup sebuah bintang tergantung pada massanya. Bintang paling masif hidup jauh lebih pendek karena mereka melakukan fusi termonuklir dengan sangat cepat.”

Namun, lubang hitam bermassa bintang bukanlah satu-satunya jenis lubang hitam di alam semesta. Ada yang lebih aneh lagi: lubang hitam supermasif, moster kosmis raksasa yang asal-usulnya belum diketahui dengan jelas oleh para astronom. Si supermasif ini diketahui berada di pusat-pusat tiap galaksi, termasuk galaksi kita, dan tampaknya memiliki cara pembentukan yang sedikit berbeda daripada lubang hitam bermassa bintang.

Diperkirakan pula, lubang hitam supermasif bisa memiliki massa satu juta hingga satu miliar kali massa Matahari. Namun, yang membingungkan, menurut sebuah penelitian lubang hitam supermasif ini tidak langsung besar saat terbentuk, tapi dimulai dari lubang hitam kecil. Pertanyaannya kini adalah, bagaimana mereka bisa terbentuk dan akhirnya bisa sebesar itu?

Lubang hitam supermasif pernah diketahui berada pada jarak sekitar 13 miliar tahun cahaya dari Bumi. Pada titik itu, alam semesta masih sangat muda, tetapi lubang hitam supermasif dengan massa yang luar biasa besar sudah terbentuk. Apa pemicu pembentukannya? Bintang atau lubang hitam yang lebih dulu muncul?

“Masalah ini sedikit mirip seperti ayam atau telur yang lebih dulu muncul,” kata Bentz. “Di alam semesta awal, lubang hitam supermasif mungkin terbentuk langsung dari keruntuhan daerah padat materi. Ketika materi di suatu daerah itu mulai runtuh oleh gravitasinya, maka kemudian terus ambruk menjadi lubang hitam supermasif, bukan membentuk bintang.”

Teori lainnya mengenai pembentukan lubang hitam supermasif menyatakan bahwa, kemungkinan lubang hitam supermasif ini terbentuk di galaksi-galaksi alam semesta awal, yakni dari bergabungnya lubang hitam yang lebih kecil menjadi satu hingga akhirnya menjadi sangat besar.

Kini, para astronom sendiri masih mencoba untuk mencari tahu bagaimana lubang hitam supermasif pertama terbentuk dari gas dan debu panas alam semesta awal. Biasanya, ketika materi seperti itu runtuh bersama, ia membentuk bintang. Jadi mungkin ada sesuatu yang berbeda mengenai kimiawi alam semesta awal yang memicu pembentukan lubang hitam awal.

Ilustrasi lubang hitam. Kredit: Wikimedia Commons

Bertumbuh

Karena mengalami proses kelahiran, itu artinya lubang hitam juga mengalami proses berumbuh. Dengan kata lain, massa yang dimiliki lubang hitam tidak hanya tetap pada ukuran yang sama selamanya. Mereka bisa tumbuh dengan melahap material di dekatnya.

“Tidak masalah apapun yang dilahap lubang hitam, itulah salah satu cara lubang hitam tumbuh di alam semesta.” Bentz mengatakan. Material yang dilahap lubang hitam akan jatuh seperti saluran air di bak mandi: ia berputar dan masuk ke saluran pembuangan.

Tapi, walaupun melahap material di sekitarnya adalah cara yang paling efisien untuk bertumbuh, lubang hitam tidak menutup dirinya untuk mengalami merger dengan lubang hitam lain. Sebab, merger antara dua atau lebih lubang hitam akan menambah massa mereka, bersatu menjadi lubang hitam yang lebih besar lagi.

Kematian

Segala yang lahir, pasti akan mati, begitupun lubang hitam~

Berapa besar pun ukurannya, lubang hitam pasti melewati fase-fase tertentu dalam hidupnya — terbentuk dan tumbuh. Tapi bisakah mereka mati? Mendiang Profesor Stephen Hawking berpikir bahwa itu mungkin saja terjadi, melalui mekanisme fisika yang sekarang dikenal sebagai radiasi Hawking.

Radiasi Hawking sendiri adalah radiasi yang dilepaskan oleh lubang hitam akibat efek kuantum di dekat horizon peristiwanya. Dikatakan bahwa menurut prinsip ketidakpastian mekanika kuantum, lubang hitam yang berotasi seharusnya menghasilkan dan mengeluarkan partikel. Radiasi Hawking mengurangi massa dan energi lubang hitam, sehingga lubang hitam bakal kehilangan lebih banyak massa dari yang diterima, lalu akan mengecil dan akhirnya menghilang (mati).

Namun, proses kematian lubang hitam berlangsung sangat lama. Tidak ada cukup waktu di alam semesta untuk kita melihat lubang hitam mati. Bahkan jika kamu harus membuat satu lubang hitam di awal alam semesta, maka butuh waktu 10^54 tahun sebelum lubang hitam itu mati.

Pertanyaan yang Belum Terjawab~

Faktanya, masih banyak yang kita tidak tahu tentang lubang hitam secara umum, itulah kerja para astronom; untuk mengisi kekosongan yang menganga dalam pemahaman kita mengenai monster kosmis raksasa ini.

Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab tersebut adalah seperti bagaimana korelasi antara ukuran lubang hitam dengan sifat-sifat galaksi yang mereka huni. Ada pula pertanyaan tentang bagaimana lubang hitam berkembang dari waktu ke waktu, dan yang pada akhirnya pertanyaan tentang bagaimana peran lubang hitam dalam pengembangan alam semesta kita.

Lubang hitam begitu menarik, besar, dan masih sangat tidak dikenali. Tetapi ada satu hal yang pasti diketahui oleh para astronom: Mereka tidak berbahaya. Tidak ada lubang hitam yang terlalu dekat dengan kita, dan kita tidak perlu khawatir tentang mereka.

Lubang hitam memang objek yang ekstrem, tetapi mereka tidak menakutkan. Lubang hitam tidak akan melahap segala materi di alam semesta, melainkan hanya yang berada di jangkauan gravitasinya saja. Mereka hanya berbahaya jika kamu mendekatinya. Aku bukan lubang hitam, jadi izinkan aku mendekatimu~

Sumber : http://www.infoastronomy.org/2018/05/bisakah-lubang-hitam-mati.html

Bisakah Lubang Hitam Mati?

Phobos Dan Deimos
Benarkah Hantaman Pada Mars Menciptakan Phobos dan Deimos?
SpaceNesia - Benarkah Hantaman Pada Mars Menciptakan Phobos dan Deimos?. Selama ini kita tahu Mars memiliki dua bulan yang disebut Phobos dan Deimos. 
Asal usul dua bulan ini adalah misteri di kalangan ilmuwan selama beberapa dekade.

Teori sebelumnya menjelaskan bahwa Phobos dan Deimos adalah asteroid kecil yang terperangkap gravitasi Mars. Kini, sebuah penelitian baru yang terbit di jurnal Science Advances, Rabu (18/4/2018), menawarkan cerita lebih dramatis.

Peneliti menyebut Phobos dan Deimos muncul setelah benda luar angkasa besar menabrak planet merah ini. Dalam tabrakan itu meninggalkan puing-puing yang kemudian berkumpul membentuk dua bulan kecil yang mengorbit dekat permukaan Mars.

"Temuan kami adalah pertama yang konsisten mengidentifikasi kejadian hingga melahirkan dua bulan kecil di Mars," kata pemimpin penelitian Dr Robin Canup, astrofisikawan dari Southwest Research Institute, dilansir dari kompas.com

Sebagai catatan, ukuran Phobos dan Deimos sangat kecil jika dibandingkan bulan bumi. Masing-masing berukuran 7,5 mil dan 14 mil.

Dari ukuran dua bulan itu, tim mulai mempelajari jenis objek langit yang menyerang planet merah.

"Temuan penting kami adalah ukuran penabrak Mars. Kami memperkirakan, objek langit yang dulu menabrak Mars berukuran besar. Ukurannya sama seperti asteroid terbesar, Vesta dan Ceres," kata Canup.

Ia berkata, saat benda berukuran 300 sampai 600 mil menabrak Mars maka akan meninggalkan puing-puing yang akhirnya mengorbit di badan planet.

Puing-puing yang berada di bagian luar kemudian berkumpul membentuk Phobos dan Deimos, sementara puing-puing yang berada dekat dengan Mars berputar dan melebur ke dalam planet.

Model komputer canggih yang digunakan para ilmuwan untuk mensimulasikan pembentukan bulan Mars juga memungkinkan tim untuk menyimpulkan seperti apa dua bulan itu.

"Model ini memprediksi bahwa dua bulan Mars berasal dari material yang berasal di Mars, sehingga komposisi massal sebagian besar elemen mirip dengan Mars," ujarnya.

"Namun, pemanasan ejecta (partikel yang terlempar) dan kecepatan lepas yang rendah dari Mars menunjukkan bahwa uap air hilang. Ini menyiratkan bulan tersebut kering," imbuhnya.

Canup dan timnya yakin temuan mereka dapat dimanfaatkan untuk eskpedisi antariksa masa depan yang bertujuan menyelidiki Mars dan bulannya, misalnya misi Eksplorasi Bulan Mars Badan Antariksa Jepang (MMX).

Rencananya, misi MMX akan diluncurkan pada 2024. Mereka berencana mendarat di Phobos dan Deimos untuk mengumpulkan sampel sebelum dibawa pulang ke bumi lima tahun kemudian.

Sumber: http://nationalgeographic.grid.id/read/13310001/benarkah-hantaman-pada-mars-ciptakan-adanya-phobos-dan-deimos?page=2
Hal Yang akan Terjadi Jika Bumi Berputar Ke Arah Berlawanan
Ilustrasi planet Bumi.(Shutterstock)
SpaceNesia - Pernahkah Anda membayangkan jika berputar ke arah sebaliknya? Mungkin Anda salah satu yang penasaran bagaimana jika bumi berputar ke arah berlawanan dengan perputarannya sekarang. Apa yang mungkin terjadi? Ternyata bukan Anda saja yang penasaran, tapi para peneliti juga. Ini membuat para ilmuwan menciptakan simulasi perputaran bumi ke arah sebaliknya.

Amerika Jadi Gurun

Hasilnya, jika bumi berputar ke arah sebaliknya, gurun akan menutupi Amerika Utara. Tak hanya itu, gundukan pasir kering juga akan menggantikan hamparan hutan Amazon di Amerika Selatan. Dalam simulasi yang dipresetasikan dalam acara tahunan European Geosciences Union Assembly di Austria itu juga menunjukkan gurun akan menghilang dari beberapa benua. Tentu bukan menghilang begitu saja, tapi beralih ke tempat lain seperti di wilayah Amerika. 

Afrika Menghijau 

Tak sekedar perpindahan gurun, rotasi bumi ke arah sebaliknya juga akan membuat daratan Afrika menghijau. Lanskap hijau yang subur akan berkembang mulai dari Afrika Tengah hingga ke Timur Tengah. 

Eropa Membeku 

Selain gurun yang berpindah tempat, lokasi-lokasi lain juga akan mendapat dampak sebaliknya dari yang ada sekarang. Di Eropa barat misalnya, ketika bumi berputar terbalik, maka akan terjadi musim dingin yang membeku di sana. Cyanobacteria, sekelompok bakter yang menghasilkan oksigen melalui fotosintesis juga akan mekar di wilayah yang belum pernah. 

Arus Laut Ikut Terbalik 

Selain itu, sirkulasi arus laut juga akan terbalik. Sirkulasi Pembalikan 
Meridian Atlantik (AMOC), arus laut yang mengatur perubahan iklim di Atlantik, akan memudar. Malah, sirkulasi ini akan muncul kembali di Samudra Pasifik Utara.

Ketika bumi berputar, ada dorongan dan daya tarik yang momentumnya membentuk arus laut. Arus ini bersama dengan aliran angin di atmosfer menghasilkan pola iklim di seluruh dunia. 

Pola iklim ini membawa curah hujan yang melimpah ke hutan lembap atau mengalihkan kelembapan ke wilayah yang kering. 

Inilah yang menjadi dasar Florian Ziemen, peneliti di Institut Meteorologi Max Planck, Jerman dan koleganya menciptakan simulasi ini. 

"(Membalikkan rotasi bumi) dengan mempertahankan semua karakteristik utama topografi seperti ukuran, bentuk, dan posisi benua dan lautan menciptakan seperangkat kondisi iklim yang benar-benar berbeda untuk interaksi sirkulasi dan topografi," ungkap Ziemen dikutip dari Live Science, Rabu (25/04/2018). 

"Tetapi karena AMOC adalah hasil dari banyak interaksi kompleks dalam sistem iklim ada banyak alasan untuk perbedaan ini," ujar Ziemen.

Bumi Lebih Hijau

Rotasi terbalik ini membuat arus laut dan angin berinteraksi dengan benua dalam cara yang berbeda. Inilah yang menghasilkan iklim yang sama sekali baru di seluruh dunia. 

Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa bumi yang berputar ke arah sebaliknya adalah bumi yang lebih hijau. 

Mereka menemukan cakupan gurun global menyusut dari 42 juta kilometer persegi menjadi 31 juta kilometer persegi. 

Tak hanya itu, rumput tumbuh lebih dari setengah daerah yang sebelumnya adalah padang pasir. Bagian lainnya bahkan memunculkan tanaman berkayu.

Sc : https://sains.kompas.com/read/2018/05/01/113300223/ini-yang-terjadi-jika-bumi-berputar-ke-arah-berlawanan
Asal Muasal Logam Mulia Di Bumi
Ilustrasi bintang neutron
SpaceNesia - Ketika Anda memegang sepotong perhiasan, pernahkah anda bertanya tanya dari mana logam itu berasal?

Asal dari banyak elemen yang paling berharga pada tabel periodik, seperti emas, perak dan platinum, telah membingungkan para ilmuwan selama lebih dari enam dekade.

Tapi sebuah studi baru menemukan jawabannya dalam cahaya bintang samar dari galaksi kerdil yang jauh.

Analisis cahaya dari beberapa bintang terang di galaksi kecil yang disebut Retikulum II, berjarak 100.000 tahun cahaya dari Bumi, menunjukkan bahwa bintang ini mengandung sejumlah besar elemen yang disebut 'r-proses'.

Emas, perak, platinum, uranium dan timbal adalah bagian dari kelompok elemen r-proses, yang meliputi setiap elemen yang lebih berat dari besi.

Mereka diberi nama setelah proses yang digunakan untuk membuat mereka, 'rapid neutron-capture process.' Fenomena ini pertama kali secara teoritis dijelaskan oleh fisikawan nuklir pada tahun 1957.

'Memahami bagaimana elemen r-proses berat terbentuk merupakan salah satu masalah yang paling sulit dalam fisika nuklir, "kata Profesor Anna Frebel, dari Department of Physics di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Walaupun nilai emas, perak dan platinum sangat mahal di Bumi karena kelangkaannya, namun proses yang menciptakan mereka juga membuatnya istimewa.

Unsur-unsur ini diciptakan ketika bintang neutron yang padat hancur satu sama lain dengan kecepatan yang luar biasa, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bumi pada asteroid.

Membuat elemen berat seperti emas membutuhkan begitu banyak energi yang hampir tidak mungkin membuat mereka di laboratorium, "jelas Profesor Frebel.

'Proses untuk membuat mereka tidak bisa di Bumi. Jadi kita harus menggunakan bintang-bintang dan benda-benda di kosmos sebagai laboratorium kami. "

Para peneliti dari MIT Kavli Institute menemukan sebuah galaksi unik yang penuh dengan unsur-unsur berat ini, yang menyoroti sejarah bintang dan evolusi galaksi.

Karena bintang tidak bisa membuat unsur-unsur berat pada diri mereka sendiri, beberapa peristiwa di masa lalu Retikulum II pernah membuatnya. Kelimpahan elemen dalam bintang berimplikasi tabrakan antara dua bintang neutron.

Temuan ini juga menunjukkan bagaimana menentukan isi dari bintang dapat menjelaskan sejarah galaksi induknya. Dijuluki 'arkeologi bintang,' pendekatan ini semakin memungkinkan astrofisikawan untuk mempelajari lebih lanjut tentang kondisi di alam semesta awal.

Penggabungan dua bintang neutron mungkin bertanggung jawab untuk sebagian besar bahan berharga yang kita sebut elemen r-proses di seluruh alam semesta. "

Ini berarti emas dalam perhiasan Anda memulai hidupnya dalam tabrakan bintang neutron, dan melakukan perjalanan ke Bumi dengan menumpang asteroid.

Semua emas di Bumi awalnya tenggelam ke pusat planet karena Bumi awal adalah cair, "kata Profesor Enrico Ramirez-Ruiz.

"Jadi semua emas yang kita miliki saat ini ditemukan di dekat permukaan dari dampak asteroid! '
"Seperti yang kita ketahui, emas tidak dibuat di asteroid," kata Profesor Frebel. 

Teori Baru Mengenai Bagaimana Bulan Terbentuk
Ilustrasi. Kredit: Lock dkk.
SpaceNesia - Tidak selalu sebuah teori ilmiah disetujui oleh para ilmuwan. Simon Lock, ilmuwan dari Universitas Harvard, baru-baru ini memimpin sebuah studi yang menghasilkan penelitian ilmiah baru; proses pembentukan Bulan bukan seperti teori yang berkembang selama ini.

Teori terbaik saat ini tentang bagaimana Bulan terbentuk adalah, sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, planet kita ditabrak oleh objek lain seukuran Mars yang disebut Theia. Teori ini berpendapat bahwa tabrakan tersebut telah meluluhlantarkan proto-Bumi menjadi dua bongkahan objek raksasa. Bongkahan yang lebih besar lambat laun menjadi Bumi, sementara bongkahan yang lebih kecil menjadi Bulan.

Namun, ada satu masalah dalam teori ini, yakni masih belum dapat menjelaskan komposisi Bulan dengan benar. Lock dan rekan-rekannya pun kemudian mulai mempertimbangkan kemungkinan lain. Mereka mengemukakan sebuah teori yang diyakini bisa menjelaskan beberapa komposisi dan fitur-fitur permukaan Bulan yang menurut mereka tidak sesuai dengan penjelasan teori pembentukan Bulan yang sudah ada.

Dalam sebuah makalah penelitiannya yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research, Lock dan rekan-rekannya menjabarkan bahwa Bulan mungkin terbentuk pada awan gas dan debu yang sangat besar dan panas. Awan gas dan debu tersebut diperkenalkan dengan nama sinestia.

Dilansir IFLScience, Lock dan rekan-rekannya berhipotesis bahwa ketika tabrakan besar antara proto-Bumi dan Theia terjadi, material pada proto-Bumi menguap, membentuk sinestia.

Sinestia pada dasarnya adalah struktur berbentuk mirip donat raksasa yang terdiri dari material super panas. Sinestia bisa terbentuk ketika dua objek seukuran planet bertabrakan. Suhu di dalam sinestia bisa mencapai 3.700 derajat Celsius, dengan tekanan yang amat sangat tinggi.

Menurut hasil penelitian Lock dan rekan-rekannya, sinestia bisa menyusut dengan cepat meski masih memancarkan panas. Mereka hanya dapat bertahan dalam ratusan tahun, sebuah waktu yang relatif singkat dalam skala alam semesta.

Ilustrasi bagian dalam sinestia. Kredi: Lock dkk
Ilustrasi bagian dalam sinestia. Kredi: Lock dkk

Perhatikan ilustrasi di atas. Itulah gambaran bagaimana bagian dalam sinestia. Tampak ada satu pusat sinestia di tengah, dan batuan kecil di sebelah kanan yang mengorbit pusat sinestia. Kedua objek itu berada di dalam material super panas yang telah disinggung sebelumnya.

Menurut studi ini, Bulan terbentuk di dalam sinestia Bumi, bukan terbentuk pada cakram protoplanet yang berasal dari hasil tabrakan proto-Bumi dengan Theia.

"Penelitian baru ini bisa menjelaskan fitur komposisi Bulan yang sulit dipecahkan dengan teori yang sudah ada saat ini," kata Sarah Stewart, salah satu ilmuwan dalam studi ini, dikutip dari Science Alert. "Secara kimiawi, Bulan hampir mirip dengan Bumi, namun tetap ada beberapa perbedaan, inilah model pertama yang bisa menjelaskan komposisi Bulan."

Ya, Bulan dan Bumi terdiri dari unsur-unsur serupa, namun ada beberapa perbedaan yang tetap membingungkan. Misalnya, relatif terhadap Bumi, Bulan kurang berlimpah dalam hal unsur-unsur yang mudah menguap seperti tembaga, kalium, natrium dan seng. "Belum ada penjelasan yang memuaskan untuk ini," kata Lock.

Lock dan rekan-rekannya mempertanyakan mengapa ada perbedaan dalam jumlah kandungan jika Bumi dan Bulan dulunya menyatu. Inilah yang kemudian menjadi dasar sebuah teori baru tentang bagaimana Bulan terbentuk dari sinestia.

"Orang-orang telah mengajukan berbagai hipotesis tentang bagaimana Bulan bisa terbentuk dengan sedikit kandungan volatil, tapi tidak ada yang mampu secara kuantitatif mencocokkan komposisi Bulan."

Dalam teori dari Lock dan rekan-rekannya ini, Theia dianggap pernah ada dan bertabrakan dengan proto-Bumi, namun material dari tabrakan ini tidak membentuk cakram yang pada akhirnya berevolusi menjadi Bulan, melainkan menciptakan sinestia tadi.

Dinukil dari EurekAlert, sekitar 10 persen dari bagian proto-Bumi telah mengalami penguapan menjadi sinestia dan sisanya menjadi batuan cair di dalam sinestia. Batuan cair inilah yang menjadi cikal bakal dari Bulan.

Pada awalnya, batuan cair yang berukuran relatif kecil tersebut mengorbit tak jauh dari pusat sinestia. Saat sinestia mulai mendingin, material super panas dari sinestia akan menghujani cikal bakal Bulan tadi. Hingga akhirnya, keseluruhan sinestia akan mengembun, dan yang tersisa darinya adalah dua objek besar yang terbentuk dari batuan cair, yang kini menjadi Bumi dan Bulan.

Perbedaan unsur volatil pada Bumi dan Bulan dapat dijelaskan karena saat pembentukannya di dalam sinestia, Bulan dikelilingi oleh tekanan uap yang sangat tinggi. Ditambah dengan suhu yang amat sangat panas, maka kondisi ini akan menguapkan unsur-unsur volatil yang dimaksud.

Walau begitu, teori ini masih belum bisa menggantikan teori pembentukan Bulan sebelumnya. Masih diperlukan proses verifikasi panjang dan pengumpulan bukti yang banyak untuk bisa menggusur teori sebelumnya.

Sumber : http://www.infoastronomy.org/

Teori Baru Mengenai Bagaimana Bulan Terbentuk

Galaksi Bimasakti di atas teleskop radio ALMA, Cile. Kredit: A. Duro/ESO
Galaksi Bimasakti di atas teleskop radio ALMA, Cile. Kredit: A. Duro/ESO
SpaceNesia - Dalam buku-buku sains dan astronomi di sekolah-sekolah, buku untuk umum, artikel di internet, hingga jurnal-jurnal ilmiah menuliskan bahwa galaksi Bimasakti memiliki bentuk spiral. Tapi, dari mana kita tahu bentuk galaksi kita padahal kita belum pernah melihatnya dari luar?

Sebenarnya, ada beberapa petunjuk yang bisa membuat kita tahu dengan mudah bentuk galaksi kita, tanpa harus merakit pesawat luar angkasa dengan biaya besar untuk meluncur ke luar galaksi dalam rangka sekadar mengetahui bentuknya.

Pertama, kita cukup melihat ke arah pusat galaksi dengan mata kita. Pada bulan-bulan tertentu, galaksi Bimasakti membentang di langit, kita bisa melihat bentangan Bimasakti ini bagaikan pita awan dan debu panjang dan tipis.

Dalam morfologi galaksi, bentuk-bentuk galaksi utama di alam semesta dibedakan menjadi tiga; galaksi spiral, galaksi elips, dan galaksi tak beraturan (tak berbentuk).

Bentuk bentangan Bimasakti yang panjang dan tipis ini menunjukkan bahwa kita sedang melihat cakram Bimasakti dari tepiannya. Karena tidak ada bentuk elips yang kita lihat di langit malam, maka dari hal ini saja kita dapat menyatakan bahwa galaksi kita berbentuk spiral.

Bukti lainnya adalah, para astronom kini telah menemukan adanya tonjolan (bulge) di wilayah pusat galaksi Bimasakti. Pada galaksi-galaksi spiral lain yang berada di alam semesta, para astronom juga melihat adanya tonjolan ini. Maka dari itu, Bimasakti berarti memiliki bentuk yang sama dengan galaksi spiral lain dengan tonjolannya.

Kedua, ketika para astronom mengukur kecepatan bintang-bintang dan gas di galaksi kita, mereka menemui bahwa gerak rotasi keseluruhan bintang tersebut ternyata berbeda serta memiliki gerakan acak. Hal seperti ini merupakan salah satu karakteristik dari jenis galaksi spiral.

Ketiga, kita bisa mengetahui galaksi Bimasakti berbentuk spiral dari material yang dimilikinya. Fraksi gas, warna, dan material debu dari galaksi kita ternyata mirip seperti galaksi spiral lainnya di alam semesta, terutama galaksi spiral tetangga kita, Andromeda.

Jadi, secara keseluruhan, galaksi Bimasakti berbentuk spiral merupakan argumen yang cukup meyakinkan dengan beberapa bukti di atas. Walau begitu, sejauh ini kita masih belum memiliki citra Bimasakti secara utuh, sehingga yang ada hanyalah citra rekaan superkomputer dari hasil penelitian gerak bintang.


Sumber : http://www.infoastronomy.org/
Apa yang Ada di Dalam Lubang Hitam?
Gargantua, ilustrasi lubang hitam. Kredit: Warner Bros Pictures 
SpaceNesia - Mulai dari lubang cacing sampai alam semesta alternatif, kita semua pasti pernah mendengar atau membaca teori gila tentang apa yang ada dan yang terjadi di dalam lubang hitam. Lalu, ada apa sebenarnya di dalam sana?

Jawaban singkatnya adalah, para astronom tidak ada yang tahu. Sementara jawaban yang agak panjang adalah, tergantung apa yang Anda tanyakan secara spesifik.

Kita dan bahkan para astronom sejauh ini belum bisa melihat sekilas apa yang ada di dalam lubang hitam karena cahaya atau material yang tertarik olehnya tidak akan pernah bisa kita capai atau amati. Bahkan jika kita bisa mengirim wahana antariksa ke lubang hitam, wahana antariksa tersebut tidak akan bisa berkomunikasi kembali kepada kita.

Teori saat ini memprediksi bahwa semua materi dalam lubang hitam ditumpuk dalam satu titik di tengah atau pusatnya, yang dikenal sebagai singularitas. Namun, para astronom masih belum memahami tentang bagaimana singularitas pusat ini bekerja.

Untuk bisa benar-benar memahami pusat lubang hitam, kita memerlukan perpaduan antara teori gravitasi dengan teori yang menggambarkan perilaku materi pada skala terkecil, yang disebut mekanika kuantum.

Teori pemersatu ini telah diberi nama, yakni gravitasi kuantum, namun cara kerjanya masih belum diketahui. Ini adalah salah satu masalah yang paling penting yang belum terpecahkan dalam fisika. Studi lanjutan tentang lubang hitam di masa yang akan datang mungkin baru akan memberikan kunci untuk membuka misteri ini.

Walau begitu, teori relativitas umum Einstein memungkinkan kita untuk mengetahui karakteristik lubang hitam. Misalnya, menurut teori relativitas umum, singularitas pada lubang hitam bisa membentuk jembatan ke alam semesta lainnya. Ini mirip dengan hipotesis lubang cacing.

Jembatan atau lubang cacing memungkinkan kita untuk melakukan perjalanan ke alam semesta lain atau bahkan perjalanan waktu. Tapi, sejauh ini masih belum ada data observasional dan eksperimental terkait lubang cacing, jadi hal tersebut sebagian besar masih berupa spekulasi belaka. Kita bahkan tidak tahu apakah jembatan atau lubang cacing tersebut memang ada di alam semesta.

Lubang cacing memang secara teoritis memungkinkan untuk terbentuk, tetapi perlu kondisi yang tepat, dan "kondisi yang tepat" tersebut hampir pasti tidak akan pernah ada di alam semesta yang sesungguhnya.

Lalu, bagaimana dengan alam semesta alternatif? Hal ini rupanya juga setali tiga uang dengan lubang cacing; masih berupa spekulasi.

Gagasan gila ini berawal dari penelitian tentang bagaimana bintang masif bermassa besar mengakhiri hidupnya. Jadi, ketika bintang dengan massa yang 30 kali lebih besar dari massa Matahari mencapai akhir hayatnya, ia akan meledak dalam supernova, dan meninggalkan inti bintang mengerut.

Inti bintang masif tersebut akan terus mengerut hingga gravitasinya cukup untuk menjadikannya sebuah lubang hitam serta hingga kepadatan dan temperaturnya menjadi sangat tinggi seperti keadaan alam semesta kita saat baru lahir 13,8 miliar tahun yang lalu.

Maka, menurut gagasan ini, akan terjadi peristiwa Big Bang dan terbentuk alam semesta baru di dalam lubang hitam tersebut. Alam semesta alternatif di dalam lubang hitam ini bisa saja memiliki struktur dan hukum fisika yang berbeda dengan alam semesta kita.

Nah, itulah sedikit informasi tentang lubang hitam. Pada intinya, para astronom sejauh ini belum memahami dengan baik apa yang ada di dalam lubang hitam. Masih perlu penelitian dan pengamatan tambahan untuk mengonfirmasi segala gagasan mengenai lubang hitam di atas.

Atau jangan-jangan, di dalam lubang hitam ada "tesseract" seperti pada film Interstellar (2014)? Yang jelas, lubang hitam bukanlah lubang dalam artian sebenarnya.


Source: http://www.infoastronomy.org/

Apa yang Ada di Dalam Lubang Hitam?

Ilmuwan Memberikan Peringatan Tentang Tabrakan Asteroid - SpaceNesia
Ilustrasi
SpaceNesia - Jika Asteroid Jatuh Ke bumi, Setiap hari Bumi ditabrak batuan dari ruang angkasa. Karena banyak sampah dari bekas pembentukan planet, tabrakan antar meteor masih berada di ruang angkasa.

Batuan di ruang angkasa disebut asteroid, ketika jatuh ke bumi disebut meteor.

Lalu apa yang terjadi bila sebuah asteroid sangat besar tertarik masuk dan jatuh ke Bumi. Setidaknya berukuran 500km, atau setingkat dengan planet kerdil / Dwarf Planet.

Dipercaya secara luas bahwa asteroid menyebabkan akhir dinosaurus, tapi bisakah mereka menjadi akhir dari kita? Profesor Alan Fitzsimmons menimbang kemungkinan tabrakan asteroid dalam waktu dekat.

Berikut Adalah Video Peringatan Ilmuan Tentang Tentang Tabrakan Asteroid


Kembali ke asal pembentukan bumi. Bumi terbentuk karena tabrakan antara asteroid atau puing batuan di antariksa.

Berjalan dengan waktu mencapai miliaran tahun akhirnya planet bumi terbentuk. Karena di ruang angkasa tidak memiliki gravitasi, maka batu yang sudah besar menarik batu yang lebih kecil. Dari ukuran kecil terus membesar.

Perlahan mulai memiliki kekuatan gravitasi dan menarik batuan lain yang lebih kecil lainnya sehingga masuk menjadi bagian planet. Setelah menjadi protoplanet Bumi, cikal bakal planet Bumi mulai mengorbit ke matahari, dan terus menyapu sisa batuan yang ada.

Tapi ketika diawal pembentukan tidak sekarang, bumi masih bopeng disana sini karena setiap waktu di bombardir oleh batuan yang tersisa. Sampai seluruhnya batuan dan gas habis tertarik gravitasi bumi.
Ternyata ada sebuah planet berukuran lebih kecil  berada di orbit yang sama dengan Bumi. Menurut data benda tersebut adalah bulan. 
Bumi Bulat atau data? - spacenesia
Bulat Atau Datar?
SpaceNesia - Telah berpuluh-puluh tahun kita ketahui, bahwa Bumi berbentuk bulat (Globe Earth). Namun, Masih ada sebagian orang  yang menganggap bahwa bumi itu datar (Flat Earth). Dari hal tersebut, manakah yang lebih benar?

Orang-orang yang memercayai Bumi datar intinya menolak semua perkembangan ilmu pengetahuan yang telah dicapai selama berabad-abad.

Mereka menganggap pendaratan Neil Armstrong di Bulan adalah hoax! Mereka menganggap satelit sebenarnya tidak pernah ada! Mereka percaya bahwa Matahari jaraknya hanya 4.000 kilometer!

Mereka juga meyakini bahwa Bumi begitu spesial sehingga walaupun banyak benda langit berbentuk bulat, Bumi berbentuk datar layaknya piringan.

Bukti Bumi datar menurut orang-orang yang meyakininya bisa diketahui saat terbang dengan pesawat.

Penumpang selalu diberitahu bahwa pesawat terbang dengan ketinggian tetap setelah stabil di udara. Menurut pemercaya Bumi datar, jika Bumi bulat, seharusnya ketinggian terbang tak pernah tetap.

“Bumi datar itu pseudosains. Orang-orang awam memercayainya karena seolah-olah pandangan itu ilmiah, padahal sebenarnya tidak ada dasarnya sama sekali,” ujar Thomas Djamaluddin, sebagai ketua di Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN)

“Jika bumi berbentuk datar, maka pergantian siang dan malam akan begitu extreme. Tapi kenyatannya, tidak demikian. Itu hanya konsep mudahnya. Sebenarnya, jika kita masih menggunakan konsep bumi datar sebagai informasi valid, maka akan merusak pada tatanan sains, baik sains klasik maupun sains modern ini” ujar Alan Saumulandi Rosan, sebagai perintis dan ketua pertama di Rancah Astronomy Club (RAC).

Berikut ini adalah beberapa eksperimen yang dapat Anda lakukan untuk membuktikan kepada diri Anda bahwa itu bulat.


Sumber :IFLScience
Ilustrasi Exoplanet,
Ilustrasi Exoplanet, Kredit : NASA
SpaceNesia - Exoplanet apakah itu?, Exoplanet adalah planet yang ditemukan di luar Tata Surya. Seperti planet dalam susunan Tata Surya, exoplanet juga mengorbit pada sebuah bintang tunggal. Tetapi bukan matahari kita. Penelitian penemuan exoplanet telah dimulai sejak lama.

Dengan teknologi manusia sekarang, astronom telah menemukan lebih dari 4 ribu Exoplanet asing yang beberada di luar tata surya, Tapi, apa tujuan utama para astronom dalam menemukan planet-planet ini? Bukannya kita gak akan mungkin bisa mengunjunginya?

Sebenarnya tidak ada yang tak mungkin Didunia ini. Jika dulu Albert Einstein berpikir, "Apa tujuan saya merancang teori relativitas bila tidak ada yang bisa melakukan perjalanan dengan kecepatan cahaya?", mungkin sekarang ini kita tidak akan memiliki teknologi seperti GPS.

Didalam sejarahnya. Manusia, selalu berevolusi dari zaman ke zaman. Mungkin saja, suatu hari nanti kita akan berevolusi, hingga bisa melintasi alam semesta dengan cepat karena membutuhkan Bumi baru untuk ditinggali. Siapa tau?

Namun, tujuan utama astronom dalam mencari exoplanet sebenarnya adalah untuk memuaskan rasa keingintahuan, mengetahui sesuatu yang belum kita ketahui. Dalam jangka pendek, dengan menemukan planet-planet asing kita bisa mempelajari proses asal-muasal tata surya kita, yang artinya juga mempelajari asal-muasal Bumi dan tentunya juga asal-muasal kehidupan.

Sementara itu, dalam jangka panjang, dengan menemukan dan meneliti planet-planet asing, manusia akan mengetahui secara ilmiah, bahwa ada kemungkinan besar banyak sekali kehidupan di planet lain. Dengan pengetahuan ini, maka pola berpikir manusia akan berubah total, baik dari segi filosofi, kepercayaan, maupun segi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mencari, menemukan, dan meneliti planet asing di luar tata surya bukan berarti kita harus ke sana, melainkan untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan peradaban manusia itu sendiri. Sayang betul bila alam semesta yang luas ini tidak dipelajari, kan?

Bila nanti seandainya kita manusia sudah bisa pergi ke planet lain, dan memanfaatkan hasil alam di sana untuk membuat peradaban baru, maka umat manusia tidak akan punah walaupun misalnya Bumi yang kita tempati sekarang tidak dapat lagi menunjang kehidupan atau hancur.

Sumber : InfoAstronomy.org, Diedit oleh Spacenesia
Ilustrasi Jika Seluruh air dibumi Dikumpulkan Menjadi Satu
Ilustrasi Jika Seluruh air dibumi Dikumpulkan Menjadi Satu
Spacenesia - Jika Seluruh Air Bumi Dikumpulkan, Berapa banyak bagian dari planet bumi yang terbuat dari air? Aktualnya sangat sedikit. Meskipun lautan air menutupi sekitar 70 persen dari permukaan bumi, samudra-samudra tersebut sangat dangkal dibandingkan dengan radius Bumi. Gambar di atas menunjukkan ilustrasi apa yang akan terjadi jika semua air di planet bumi (tepatnya di permukaan bumi) dikumpulkan menjadi bola.

Jari-jari bola ini hanya sekitar 700 kilometer, jauh kurang dari setengah radius Bulan bumi, tetapi sedikit lebih besar dari bulan Saturnus, Rhea yang, seperti kebanyakan bulan di luar Sistem Tata Surya kita, sebagian besar adalah air es. Bagaimana cara air sebanyak ini datang dan berada di Bumi dan apakah ada jumlah yang signifikan yang terperangkap jauh di bawah permukaan bumi akan tetap menjadi topik penelitian.
Jika Kita Tinggal di Multiverse, Dimanakah Dunia Ini Bersembunyi?
Ilustrasi Multiverse, Kredit : wwg.com
SpaceNesia - Dengan beberapa perkiraan, alam semesta yang dikenal memiliki 2 triliun galaksi, rata-rata setiap galaksi memiliki sekitar 100 juta bintang dan jumlah planet yang tak terhitung jumlahnya. Tapi mungkinkah ada banyak salinan dari seluruh alam semesta seperti yang kita pahami?

Konsep multiverse - dunia yang tidak ada habisnya ini, mungkin mewakili versi realitas yang hampir identik dengan kita - adalah gagasan meresap dalam sci-fi, dan yang memiliki banyak generasi fisikawan dan fiksi ilmiah. Pencipta dan penggemar.

Sementara para ilmuwan belum menemukan bukti bahwa ada banyak eksistensi, ada sejumlah hipotesis yang menggunakan hukum fisika untuk mengeksplorasi kemungkinan beberapa alam semesta, terkadang menantang pemahaman kita tentang realitas itu sendiri dalam prosesnya, Erin Macdonald, astrofisikawan, insinyur dan Memproklamirkan diri sebagai "ahli buku besar sci-fi nerd," menjelaskan di sebuah panel pada hari Sabtu (17 Juni) di Future Con, sebuah festival yang menyoroti persimpangan antara sains, teknologi dan fiksi ilmiah di Washington, DC

Alam semesta dan kita semua ada di dalam kerangka ruang-waktu - ruang 3D dikombinasikan dengan waktu, akan menciptakan kontinum 4D, jelas Macdonald. Tapi para ilmuwan tidak dapat mengatakan dengan pasti seperti apa ruang-waktu, yang berarti mungkin akan memiliki alam semesta yang tak terhitung jumlahnya yang tak terlihat oleh kita, katanya.

Versi paling sederhana dari konsep multiverse adalah alam semesta yang disebut cermin , di mana satu alam semesta alternatif sejajar dengan paralel kita, namun juga berlawanan - seperti episode "Mirror, Mirror" dari serial televisi "Star Trek" yang asli, Di mana pihak pendaratan secara keliru menyamai versi Enterprise yang berbeda, yang ditempati versi awak awak akrab mereka yang lebih brutal.

Perspektif lain tentang multiverse adalah alam semesta brane , yang menggambarkan alam semesta kita sebagai satu membran di setumpuk alam semesta membran yang luas dan mungkin tak terbatas, namun tanpa koneksi atau sarana untuk berkomunikasi di antara keduanya, Macdonald mengatakan.

Erin Macdonald di panel Con Masa Depan berjudul "Teori Paralel dan Multi-Semesta di Sci-Fi." Kredit: M. Weisberger / Ilmu Hidup
Beberapa alam semesta mungkin juga ada dalam gelembung dalam ruang-waktu, sebuah konsep yang dieksplorasi dalam video game "Bioshock Infinite." Dengan perhitungan ini, penghuni dua alam semesta secara teoritis dapat berinteraksi jika "gelembung" mereka terhubung satu sama lain secara langsung, menurut Macdonald.

Alam semesta kuantum tampak lebih umum di sci-fi, kata Macdonald. Ide ini menunjukkan bahwa setiap keputusan yang dibuat seseorang menghasilkan garis waktu baru, menciptakan alam semesta baru dan mandiri yang mengikuti jalan yang berbeda. Penulis fiksi ilmiah yang menyusun cerita perjalanan waktu sering meminta peraturan alam kuantum untuk menjelaskan bagaimana karakter dapat melakukan perjalanan ke masa lalu dan tidak menghapus keberadaan mereka sendiri - setiap pilihan mereka melahirkan alam semesta yang baru sepenuhnya, meninggalkan alam semesta yang asal mereka utuh.

Tapi mungkin premis yang paling mengganggu adalah apakah alam semesta yang kita anggap nyata adalah simulasi sebenarnya, seperti dalam film "The Matrix".

"Apakah Anda ingin tahu apakah Anda adalah sebuah simulasi, tapi tidak memiliki kendali? Bisakah kita menguji apakah kita sedang melakukan simulasi jika kita semua hanya sekadar kode?" Macdonald bertanya pada penonton. Untuk saat ini, banyak pertanyaan tetap tidak terjawab - tentang beberapa alam semesta dan realitas kita sendiri, katanya.

"Semua ini tidak bisa dibuktikan - tapi mudah dipikirkan," kata Macdonald.

Sumber : space.com, Live science
Cincin Saturnus Diperkirakan Akan Hilang Dalam 1 Miliar Tahun Lagi
Saturnus. Kredit: NASA/JPL-Caltech
SpaceNesia - Jika Anda ingin melihat cincin Saturnus, lebih baik bersegeralah. Karena sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa cincin Saturnus akan hilang dalam waktu sekitar 1 miliar tahun dari sekarang, atau kira-kira seperempat dari sisa usia Matahari. Kira-kira, apa penyebabnya?

Kabar baiknya adalah, cincin Saturnus akan bertahan 10 kali lebih lama dari yang kita diperkirakan sebelumnya yang menyatakan bahwa cincin Saturnus akan hilang dalam 100 juta tahun dari sekarang.

Temuan ini dipublikasikan di sebuah makalah di jurnal Icarus, dengan tim peneliti yang dipimpin oleh William Farrell dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA di Maryland, AS.

Dalam penelitiannya, Farrell dan rekan-rekannya menggunakan data dari wahana antariksa Cassini. Ketika tiba di orbit Saturnus pada bulan Juli 2004, Cassini melintasi cincin utama dan paling terang, yakni cincin B. Ini memberikan kesempatan unik untuk mendapatkan data plasma yang unik dari cincin B menggunakan instrumen bernama Radio and Plasma Wave System (RPWS).

Dari penelitian yang dilakukan itu, diketahui bahwa cincin Saturnus secara bertahap kehilangan materinya. Penelitian sebelumnya menggunakan wahana antariksa Voyager 1 dan 2 pada tahun 1980 dan 1981 sempat menyatakan hal tersebut disebabkan oleh adanya debris antarbintang yang menumbuk sistem cincin, menciptakan plasma dan melepaskan gas.

Namun, Cassini menemukan bahwa plasma pada cincin Saturnus tampaknya tidak disebabkan oleh debris antarbintang, melainkan dari cahaya Matahari yang menyebabkan proses fotolitik. Proses tersebut menciptakan plasma, yang menghasilkan elektron bermuatan negatif yang menjadi indikator hilangnya cincin Saturnus dari waktu ke waktu, di mana puncaknya adalah 1 miliar tahun dari sekarang.

Untuk memastikan dan mengonfirmasi apakah teori ini benar, kini para astronom sedang menunggu data yang datang dari Cassini. Wahana antariksa nirawak tersebut saat ini sedang melakukan serangkaian terbang lintas antara Saturnus dan cincinnya.

Cassini akan kembali menggunakan instrumen RPWS dalam serangkaian terbang lintas tersebut. Dengan begitu, dalam waktu dekat Cassini akan mengirimkan data-data berharga yang bisa memberi tahu kita berapa lama cincin Saturnus akan bertahan.
Lubang cacing dalam film Interstellar (2014). Kredit: Warner Bros
SpaceNesia - Jika Kamu pernah menonton film Interstellar, Kamu mungkin masih ingat adegan ketika pesawat yang dikendari Cooper dan rekan-rekannya masuk ke lubang cacing. Lalu, apa itu lubang cacing? Bisakah jadi jalan pintas di alam semesta? Mari mengenalnya lebih jauh.

Sebelum kita membahas tentang lubang cacing, ada baiknya kita mengetahui dulu sedikit tentang apa itu lubang hitam. Lubang hitam merupakan objek alam semesta yang begitu padat sehingga tidak ada satupun materi di alam semesta yang dapat melarikan diri dari tarikan gravitasinya, bahkan cahaya sekalipun.

Saat ini diketahui hampir seluruh galaksi di alam semesta memiliki lubang hitam raksasa di pusat atau bagian inti galaksinya, yang mana lubang hitam tersebut dapat memiliki massa jutaan atau bahkan miliaran kali lebih besar dari massa Matahari kita.

Beberapa lubang hitam ini adalah salah satu objek yang paling energik di alam semesta ketika masih berusia muda. Bayangkan saja, lubang hitam muda dapat menembak jet bahkan saat mereka sedang menyedot material yang berada dekat di sekitarnya. Tapi ada pula lubang hitam yang berusia tua seperti lubang hitam di pusat galaksi Bimasakti, yang kini jauh lebih tenang.

Lalu, apa hubungannya lubang hitam dengan lubang cacing? Jawabannya: tidak ada!

Anda mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang berpikir bahwa bila kita masuk atau tersedot lubang hitam, kita akan masuk ke "jembatan" penghubung alam semesta yang dikenal sebagai lubang cacing. Sayangnya, anggapan itu keliru.

Lubang hitam bukanlah "lubang" dalam artian sebenarnya. Ia merupakan bola gelap yang memiliki tarikan gravitasi sangat kuat. Saking kuatnya, cahaya tidak bisa lolos saat terjebak gravitasinya, itulah sebabnya ia muncul hitam, alias gelap tak bercahaya.

Sumber gravitasi lubang hitam terletak di jantung atu pusat kegelapan lubang hitam, sebuah objek alam semesta yang amat sangat luar biasa kecil, namun memiliki massa ribuan hingga jutaan kali massa Matahari.

Bagaimana dengan lubang cacing? Sederhananya, lubang cacing adalah 'terowongan' teoretis antara dua titik ruang yang disebabkan oleh kelengkungan ruang-waktu yang begitu ekstrem.

Teori relativitas umum Albert Einstein menjelaskan bagaimana ruang-waktu melengkung disebabkan oleh benda besar seperti lubang hitam. Lubang cacing muncul dalam solusi untuk persamaan relativitas umum Einstein. Jadi, keberadaan lubang cacing saat ini masih sebatas teori fisika dan matematika saja.

Lubang cacing begitu rumit. Untuk bisa menciptakan lubang cacing yang stabil di ruang-waktu, kita membutuhkan sesuatu yang disebut "materi eksotis", yakni materi berenergi negatif untuk menahan terowongan lubang cacing tetap terbuka. Sayangnya, materi eksotis ini juga murni masih sebatas teori.

Lubang Cacing Sebagai Jalan Pintas Semesta


Lubang cacing sejauh ini masih dianggap terowongan teoritis melalui struktur ruang-waktu yang memungkinkan perjalanan cepat antara satu titik ke titik lainnya di alam semesta yang berjarak puluhan hingga ratusan tahun cahaya secara singkat.

Perjalanan antarbintang melalui lubang cacing, menurut astrofisikawan Dr. Kip S. Thorne, saat ini masih dalam ranah fiksi ilmiah saja. Hambatan utama yang akan dihadapi manusia jika ingin memanfaatkan lubang cacing sebagai jalan pintas untuk menjelajahi semesta adalah ketidakstabilan lubang cacing itu sendiri.

Menurut hukum fisika, lubang cacing mudah runtuh sehingga tak ada yang bakal selamat melewatinya. Supaya lubang cacing tidak runtuh, kita harus memasukkan materi yang berenergi negatif, yang mengeluarkan semacam gaya anti-gravitasi yang mampu menahan lubang cacing dari keruntuhannya.

Menurut Dr. Thorne, lubang cacing yang bisa dijadikan jalan pintas--jika mereka benar-benar ada--hampir pasti tidak bisa terbentuk secara alami di alam semesta. Artinya, lubang cacing yang bisa dijadikan jalan pintas harus diciptakan sendiri. Sayangnya, teknologi manusia belum mampu menciptakan lubang cacing buatan.

Pada intinya, Anda tidak harus masuk ke lubang hitam untuk menuju lubang cacing. Apa yang ada di dalam lubang hitam masih belum diketahui, bisa jadi hanya ruang antah berantah. Istilahnya, lubang hitam dan lubang cacing tidak satu paket.
Benarkah Kehidupan Yang Ada di Bumi Berasal dari Luar Angkasa?
Ilustrasi Komet Melintas (Sumber : space.com)
SpaceNesia - Apakah Benar Kehidupan Di bumi Berasal Dari Luar Angkasa?, Tampaknya perbincangan mengenai asal-usul kehidupan di bumi masih menjadi kajian menarik untuk para ilmuwan. Hal ini didukung oleh masih banyaknya penelitan yang dilakukan para ilmuwan mengenai asal-usul kehidupan di bumi.

Dr Haruna Sugahara dari Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology di Yokohama berusaha mengungkapkan asal-usul kehidupan di bumi menggunakan unsur dari luar bumi, yaitu komet.

Para ilmuwan itu berusaha menciptakan blok bangunan protein dengan mengunakan komet yang mengandung air, asam amino, dan silikat.

Mereka berusaha untuk meniru keadaan komet saat menabrak bumi dengan menggunakan campuran beku yang ditembak menggunakan penembak propellant. Analisis terhadap proses itu kemudian menunjukkan bahwa beberapa asam amino saling menyambung untuk membentuk rantai molekul yang disebut peptida.

Dengan panjang rantai peptida yang terus berulang itu, terbentuklah protein, molekul bioaktif, dan kompleks. Dan protein merupakan salah satu syarat untuk membentuk kehidupan.

Mengutip informasi dari laman Mirror, Minggu (23/8/2015), Dr Sugahara mengatakan bahwa eksperimen yang mereka lakukan menunjukkan bahwa komet yang berkondisi dingin pada saat bertubrukan dengan bumi merupakan kunci proses sintesis ini. Dalam kondisi demikian membuat peptida akan berkembang menjadi lebih panjang.

"Penemuan ini mengindikasikan bahwa tubrukan komet ternyata memainkan peranan penting untuk mengirimkan bibit kehidupan di bumi. Hal ini juga membuka kemungkinan bahwa dapat terjadi proses evolusi yang sama di belahan luar angkasa lainnya," tambah Sugahara.

Penelitian ini juga telah dipresentasikan pada Godschmidt geochemistry Conference di Praha, Republik Ceko serta mendapat sambutah cukup baik.

Salah satu peserta Profesor Mark Burchell, dari University of Kent, mengungkapkan bahwa penelitian ini menambah pembedaharaan infomasi mengenai asal-usul molekul kompleks yang ada di bumi. 

- Copyright © ABA BLOG - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -